Oleh: Prof.Dr.H.Duski Samad,M.Ag
STP#series82.11042026.
Padang – Gejala haus, lapar dan sering buang air kecil adalah gejala utama dari penyakit diabetes. Gejala tambah mudah capek, mata kabur, ngantuk itu penanda anda mulai terserang penyakit diabetes. Begitu penyuluhan dokter di klinik As-Syifa pagi ini dalam peneriksaan darah lengkap.
Dalam dialog pasien DM dengan tenaga kesehatan mengemuka bahwa pemicu DM yang paling dominan adalah gaya hidup (life style).
Faktor keturunan dan usia juga sulit menolaknya. Namun yang pasti setiap orang mesti memeriksa gula darah menimal satu kali setahun.
Mengoreksi Gaya Hidup
Manusia modern hidup dalam kelimpahan. Teknologi memudahkan, akses informasi terbuka, kebutuhan tersedia tanpa batas. Namun di balik itu semua, tersimpan paradoks yang sulit dibantah.
Hidup semakin nyaman, tetapi jiwa semakin gelisah. Fasilitas semakin lengkap, tetapi kesehatan justru menurun. Koneksi semakin luas, tetapi relasi semakin rapuh.
Di sinilah kita perlu berhenti sejenak dan bertanya secara jujur. Apakah gaya hidup modern benar-benar memanusiakan manusia, atau justru menjauhkannya dari hakikat dirinya?
Gaya Hidup Tanpa Kendali
Salah satu ciri paling menonjol dari gaya hidup modern adalah hilangnya kendali. Pola makan tidak teratur, konsumsi berlebihan, waktu istirahat terganggu, dan aktivitas fisik menurun drastis. Manusia hidup dalam ritme yang cepat, tetapi kehilangan arah.
Budaya instan mempercepat segalanya, kecuali kedewasaan. Orang ingin hasil cepat tanpa proses, ingin sehat tanpa disiplin, ingin tenang tanpa pengendalian diri. Akibatnya, tubuh menjadi korban, dan jiwa ikut terseret.
Dalam Al-Qur’an, Allah mengingatkan: “Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan” (QS. Al-A’raf: 31). Ayat ini bukan sekadar etika konsumsi, tetapi prinsip dasar keseimbangan hidup. Ketika batas ini dilanggar, maka yang muncul adalah kerusakan, baik secara fisik maupun sosial.
Hedonisme dan Kehampaan
Gaya hidup modern juga ditandai oleh kecenderungan hedonistik. Mengejar kesenangan sebagai tujuan utama hidup. Ukuran kebahagiaan bergeser dari makna ke materi, dari kedalaman ke penampilan.
Media sosial memperparah keadaan. Hidup dipamerkan, bukan dimaknai. Kebahagiaan diukur dari validasi publik, bukan ketenangan batin. Orang terlihat bahagia, tetapi tidak benar-benar bahagia.
Inilah yang dalam perspektif spiritual disebut sebagai kehampaan eksistensial. Hidup yang penuh aktivitas, tetapi kehilangan makna.
Tubuh Lelah, Jiwa Kosong
Krisis terbesar manusia modern bukan hanya penyakit fisik, tetapi keletihan jiwa. Stres, kecemasan, depresi, dan kehilangan arah hidup menjadi fenomena yang semakin umum.
Manusia bekerja keras, tetapi tidak tahu untuk apa. Ia mengejar banyak hal, tetapi tidak pernah merasa cukup. Dalam istilah Al-Qur’an, kondisi ini mendekati makna “ma’isyatan dhanka”, kehidupan yang sempit meskipun secara lahir tampak lapang (QS.Thaha: 124).
Di sinilah terlihat bahwa masalah utama bukan kekurangan fasilitas, tetapi kesalahan orientasi hidup.
Koreksi, Kembali ke Keseimbangan
Mengoreksi gaya hidup modern tidak berarti menolak kemajuan, tetapi menata ulang arah. Islam tidak mengajarkan anti dunia, tetapi menempatkan dunia pada posisi yang benar.
Ada beberapa langkah korektif yang mendasar:
Pertama, mengembalikan orientasi hidup.
Hidup bukan sekadar untuk menikmati, tetapi untuk mengabdi. Kesadaran ini akan mengubah cara kita bekerja, makan, beristirahat, dan berinteraksi.
Kedua, membangun disiplin diri.
Gaya hidup sehat tidak lahir dari niat, tetapi dari kebiasaan. Mengatur pola makan, menjaga waktu tidur, berolahraga, dan mengendalikan konsumsi digital adalah bentuk nyata dari ikhtiar.
Ketiga, menghidupkan dimensi spiritual.
Ibadah bukan hanya kewajiban, tetapi kebutuhan jiwa. Shalat menata waktu, zikir menenangkan hati, puasa melatih pengendalian diri. Tanpa ini, manusia akan kehilangan keseimbangan batin.
Keempat, menyederhanakan hidup.
Tidak semua yang bisa dimiliki harus dimiliki. Kesederhanaan bukan kekurangan, tetapi kebebasan dari ketergantungan.
Menata Ulang Peradaban
Koreksi gaya hidup tidak cukup pada level individu. Ia harus menjadi gerakan sosial. Keluarga, sekolah, dan masjid perlu menjadi ruang edukasi gaya hidup sehat dan bermakna.
Program seperti Smart Surau dapat diarahkan tidak hanya pada aktivitas ibadah, tetapi juga pembinaan kesehatan, penguatan mental, dan pengendalian gaya hidup. Pada akhirnya, peradaban yang kuat tidak hanya dibangun oleh orang-orang cerdas, tetapi oleh manusia yang sehat, berintegritas, dan memiliki orientasi hidup yang benar.
Gaya hidup modern telah memberi banyak kemudahan, tetapi juga membawa tantangan yang serius. Tanpa kendali dan nilai, ia bisa menjauhkan manusia dari dirinya sendiri.
Maka yang kita butuhkan hari ini bukan sekadar inovasi, tetapi koreksi. Bukan sekadar kemajuan, tetapi keseimbangan. Karena hidup yang baik bukan yang paling cepat, paling kaya, atau paling terlihat, tetapi yang paling terarah, sehat, dan bermakna.
Dan di situlah, manusia kembali menemukan dirinya. Ini sebagai makhluk yang tidak hanya hidup di dunia, tetapi juga menuju keabadian.
MENYADARKAN DIRI
Di tengah gemerlap peradaban modern, manusia tampak semakin maju secara teknologi, tetapi pada saat yang sama justru semakin rapuh secara kesehatan, baik fisik maupun mental.
Rumah sakit bertambah, obat semakin canggih, pusat kebugaran menjamur, tetapi penyakit juga meningkat: diabetes, hipertensi, stres, depresi, hingga gangguan kecemasan. Ini bukan sekadar persoalan medis, melainkan cermin dari krisis gaya hidup (lifestyle crisis).
Pertanyaannya sederhana tetapi mendasar. Mengapa manusia modern yang serba tahu justru gagal menjaga kesehatannya?
Jawabannya terletak pada cara kita memandang kesehatan itu sendiri. Selama ini, kesehatan lebih sering dipahami sebagai urusan tubuh semata. Soal makan, olahraga, dan pengobatan. Padahal dalam perspektif Islam, kesehatan adalah bagian dari iman dan amanah Ilahi. Ia bukan sekadar kebutuhan biologis, tetapi tanggung jawab spiritual.
Di sinilah kita perlu mengoreksi secara serius gaya hidup umat hari ini.
Gaya Hidup Instan dan Krisis Kesadaran
Modernitas melahirkan budaya instan: makanan cepat saji, hiburan tanpa batas, kerja tanpa jeda, dan ambisi tanpa kontrol. Tubuh dipaksa bekerja melampaui batas, sementara jiwa dibiarkan kosong tanpa makna.
Kita makan berlebihan tetapi tidak sehat, bekerja keras tetapi tidak tenang, terhubung secara digital tetapi terasing secara emosional.
Dalam kondisi ini, penyakit bukan lagi kejadian tak terduga, tetapi konsekuensi logis dari gaya hidup yang salah.
Al-Qur’an telah memberi peringatan yang sangat jelas: “Janganlah kamu menjatuhkan dirimu ke dalam kebinasaan” (QS. Al-Baqarah: 195). Ayat ini bukan hanya berbicara tentang larangan bunuh diri secara fisik, tetapi juga tentang larangan menjalani hidup dengan pola yang merusak diri secara perlahan.
Sayangnya, banyak di antara kita yang sadar secara intelektual, tetapi lalai secara praktik.
Kesehatan sebagai Amanah, Bukan Sekadar Pilihan
Dalam Islam, tubuh bukan milik mutlak manusia. Ia adalah titipan Allah yang harus dijaga. Karena itu, menjaga kesehatan bukan pilihan, tetapi kewajiban moral dan spiritual.
Rasulullah SAW menegaskan: “Berobatlah kalian, karena setiap penyakit ada obatnya.” Pesan ini menunjukkan bahwa ikhtiar kesehatan adalah bagian dari iman. Tidak cukup hanya berdoa, tetapi juga harus berusaha.
Namun, yang sering terjadi adalah dua ekstrem:
ada yang terlalu mengandalkan medis tanpa spiritualitas, dan ada pula yang hanya bersandar pada doa tanpa usaha nyata. Keduanya tidak mencerminkan keseimbangan Islam.
Iman yang benar melahirkan ikhtiar yang serius dan tawakkal yang tulus.
Dari Tubuh ke Hati, Dimensi yang Terlupakan
Masalah kesehatan modern tidak hanya terletak pada tubuh, tetapi juga pada jiwa yang tidak terkelola. Stres, iri hati, ambisi berlebihan, dan kecemasan adalah penyakit batin yang berdampak langsung pada kondisi fisik.
Dalam tradisi tasawuf, kesehatan sejati adalah kesehatan yang menyentuh dua dimensi sekaligus: jasad dan ruh. Tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) menjadi fondasi penting dalam menjaga keseimbangan hidup.
Zikir menenangkan pikiran, shalat menata ritme hidup, puasa melatih pengendalian diri. Semua ibadah ini bukan hanya ritual spiritual, tetapi juga terapi psikologis dan biologis yang sangat dalam.
Sayangnya, dimensi ini sering diabaikan dalam gaya hidup modern yang terlalu materialistik.
Sehat Itu Iman.
Di titik ini, kita perlu menegaskan kembali satu prinsip penting: sehat itu iman.
Orang beriman tidak menunggu sakit untuk peduli pada tubuhnya. Ia menjaga pola makan, mengatur waktu istirahat, mengelola stres, dan menyeimbangkan antara kerja dan ibadah. Ia memahami bahwa kesehatan adalah sarana untuk beribadah dan memberi manfaat bagi orang lain.
Dalam hadis disebutkan bahwa mukmin yang kuat lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah. Kekuatan di sini tidak hanya bermakna fisik, tetapi juga mental dan spiritual.
Maka, gaya hidup sehat bukan sekadar tren, tetapi bagian dari etos keimanan.
Menuju Peradaban Sehat Berbasis Iman
Krisis kesehatan yang kita hadapi hari ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan pendekatan medis. Ia membutuhkan perubahan paradigma dari sekadar “hidup nyaman” menjadi “hidup bermakna.”
Masjid, lembaga pendidikan, dan keluarga harus menjadi pusat edukasi gaya hidup sehat berbasis iman. Program seperti Smart Surau misalnya, dapat menjadi ruang integrasi antara ibadah, edukasi kesehatan, dan pembinaan karakter.
Kita membutuhkan gerakan kolektif untuk membangun peradaban sehat, di mana manusia tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga sehat secara fisik dan matang secara spiritual.
Akhirnya, kita sampai pada kesimpulan sederhana tetapi mendalam. Menjaga kesehatan bukan hanya soal hidup lebih lama, tetapi tentang hidup lebih benar.
Karena pada akhirnya, tubuh yang sehat adalah kendaraan untuk menuju ridha Allah. Dan iman yang kuat akan selalu tercermin dalam cara kita memperlakukan diri sendiri. Sehat bukan sekadar kebutuhan. Sehat adalah iman. (ds).













