Sensasi Kematian Vs Kecintaan Hidup : Kenapa Manusia Tetap Serakah Padahal Kematian Mengintai?

Oleh: Prof.Dr.H.Duski Samad, M.Ag
Pembina Majelis Profetik

Kematian adalah misteri yang paling pasti dalam kehidupan manusia. Tidak ada seorang pun yang dapat menghindarinya, menundanya, atau bernegosiasi dengannya. Sejak manusia dilahirkan, sesungguhnya ia sedang berjalan menuju kematian.

Namun anehnya, semakin dekat kematian itu datang, semakin banyak manusia yang hidup seolah-olah tidak akan pernah mati.

Paradoks inilah yang menjadi salah satu persoalan terbesar dalam sejarah peradaban manusia.

Al-Qur’an menegaskan “Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati.” (QS. Ali Imran: 185)”.

Kematian bukan sekadar berhentinya denyut jantung atau berakhirnya aktivitas otak. Dalam perspektif Islam, kematian adalah perpisahan ruh dengan jasad. Tubuh yang selama ini menjadi kendaraan kehidupan tidak lagi mampu memikul amanah ruh yang berasal dari Allah SWT.

Allah berfirman “Kemudian Dia menyempurnakannya dan meniupkan ke dalamnya ruh ciptaan-Nya.” (QS. As-Sajdah: 9)”.

Hakikat manusia bukanlah tubuhnya, melainkan ruhnya. Tubuh berasal dari tanah dan akan kembali menjadi tanah. Sedangkan ruh berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya. “Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali.” (QS. Al-Baqarah: 156)”.

Dalam perspektif tasawuf, tubuh yang tersusun dari puluhan triliun sel hanyalah hijab yang membatasi manusia dari menyaksikan hakikat ketuhanan. Selama berada dalam dunia materi, manusia lebih banyak berurusan dengan apa yang tampak daripada apa yang hakiki.

Padahal ruh selalu membawa kerinduan kepada asalnya. Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum al-Din menjelaskan bahwa kematian bukanlah ketiadaan, tetapi perpindahan dari satu alam menuju alam yang lain. Yang mati hanyalah hubungan ruh dengan jasad. Ruh tetap hidup dan melanjutkan perjalanan menuju alam barzakh.

Ibn Qayyim al-Jauziyyah dalam Kitab ar-Ruh menjelaskan bahwa setelah kematian, ruh memasuki fase kehidupan baru sesuai dengan kualitas amal yang dibawanya.

Allah SWT berfirman “Dan di hadapan mereka ada barzakh sampai hari mereka dibangkitkan.” (QS. Al-Mu’minun: 100)”.

Sebagian ruh kembali dengan kegembiraan karena berhasil melaksanakan amanah kehidupan. Sebagian lagi kembali dengan ketakutan dan penyesalan karena menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan Allah.

Al-Qur’an menggambarkan penyesalan itu. “Ya Tuhanku, sekiranya Engkau menangguhkan kematianku sedikit waktu lagi, maka aku akan bersedekah dan menjadi orang-orang yang saleh.”
(QS. Al-Munafiqun: 10)”.

Baca Juga:  Februari 2026 Punya Long Weekend, Cek Jadwal Libur Imlek di Sini

Menariknya, tidak ada permintaan untuk kembali demi menambah kekayaan, memperbesar jabatan, atau memperluas kekuasaan. Yang diminta hanyalah kesempatan memperbaiki amal.

Mengapa Manusia Tetap Serakah?

Di sinilah muncul pertanyaan yang sangat mendasar.Jika manusia mengetahui bahwa ia akan mati, mengapa ia tetap serakah?

Mengapa manusia terus mengumpulkan harta, mengejar kekuasaan, dan mempertahankan berbagai kepentingan duniawi, padahal kuburan setiap hari mengingatkannya bahwa semua itu akan ditinggalkan?

Al-Qur’an menjelaskan bahwa salah satu penyebabnya adalah thulul amal. Yaitu angan-angan yang terlalu panjang.

Manusia merasa masih memiliki banyak waktu. Ia menunda taubat, menunda ibadah, menunda sedekah, dan menunda berbagai kebaikan karena mengira kematian masih jauh.

Allah SWT berfirman “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.” (QS. At-Takatsur: 1–2)”.

Keserakahan muncul ketika dunia berubah dari sarana menjadi tujuan.

Padahal Rasulullah SAW telah mengingatkan “Seandainya anak Adam memiliki satu lembah emas, niscaya ia menginginkan lembah emas yang kedua.” (HR. Bukhari dan Muslim)”.

Dalam pandangan tasawuf, akar keserakahan adalah dominasi hawa nafsu dan lemahnya kesadaran akhirat. Hati yang terlalu terpaut kepada dunia akan memandang kematian sebagai ancaman. Sebab, kematian dianggap akan merampas seluruh kenikmatan yang dicintainya.

Al-Ghazali menjelaskan bahwa cinta dunia yang berlebihan merupakan induk berbagai penyakit hati. Semakin seseorang menggantungkan kebahagiaannya kepada dunia, semakin besar pula ketakutannya terhadap kehilangan, penuaan, dan kematian.

Penjelasan Psikologi Modern

Menariknya, psikologi modern menemukan fenomena yang hampir sama.

Ernest Becker dalam The Denial of Death menjelaskan bahwa manusia sesungguhnya sadar bahwa dirinya akan mati. Namun ego manusia menolak kenyataan tersebut. Karena itu, manusia menciptakan apa yang disebut immortality project, yaitu usaha untuk memperoleh rasa keabadian melalui kekayaan, kekuasaan, ketenaran, prestasi, dan warisan sosial.

Manusia ingin dikenang.Manusia ingin merasa tetap hidup setelah kematian. Tetapi ironisnya, semakin banyak yang dimiliki, semakin besar pula kecemasan yang muncul.

Harta melahirkan ketakutan kehilangan.
Jabatan melahirkan ketakutan tergeser.
Popularitas melahirkan ketakutan dilupakan.

Padahal Al-Qur’an mengingatkan “Dan tidaklah kehidupan dunia itu melainkan kesenangan yang memperdaya.” (QS. Ali Imran: 185)”.

Baca Juga:  Menteri ESDM Tekankan Penggunaan BBM Efisien dan Larang Penimbunan

Yang menipu manusia bukan dunia itu sendiri, tetapi ilusi bahwa dunia adalah tujuan akhir.

Menempatkan Dunia pada Posisi yang Benar

Islam tidak mengajarkan manusia membenci dunia. Islam mengajarkan manusia menempatkan dunia pada posisi yang benar.

Harta dicari, tetapi tidak diperbudak oleh harta.
Jabatan dijalani, tetapi tidak dipertuhankan.
Ilmu dikembangkan, tetapi tidak melahirkan kesombongan.
Kehidupan dicintai, tetapi tidak melupakan kehidupan yang lebih abadi.

Para ulama mengatakan bahwa orang yang paling cerdas, bukanlah orang yang paling banyak mengumpulkan dunia. Tetapi orang yang paling banyak mengingat kematian, dan mempersiapkan bekal untuk kehidupan sesudahnya.

Pada akhirnya, titik temu yang menarik antara Al-Qur’an, tasawuf Al-Ghazali, metafisika ruh Ibn Qayyim, dan psikologi modern adalah bahwa ketakutan terhadap kematian akan berkurang ketika manusia menemukan makna hidup, mengenal Tuhannya, dan menyadari bahwa dunia hanyalah persinggahan sementara.

Kematian bukanlah musuh kehidupan.
Kematian adalah pintu menuju kehidupan berikutnya.
Tubuh kembali menjadi tanah, tetapi ruh melanjutkan perjalanan.

Ukuran keberhasilan hidup bukanlah seberapa lama seseorang hidup, melainkan seberapa siap ia kembali kepada Pemilik Kehidupan.

Sebab pada akhirnya, orang yang paling kaya bukanlah yang paling banyak memiliki, melainkan yang paling siap meninggalkan apa yang dimilikinya ketika panggilan pulang itu datang.

“Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai. Maka masuklah ke dalam golongan hamba- hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. Al-Fajr: 27–30)”.

Tulisan ini dapat ditutup dengan satu kalimat reflektif. “Masalah manusia bukan ia tidak mengetahui kematian. Tetapi ia lupa bahwa kematian lebih dekat daripada semua rencana yang sedang ia bangun”. (DS.10062026).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *