Ilmu Netral atau Ada Pesan Tersembunyi? Kartini, Feminisme, dan Arah Peradaban

Oleh: Prof.Dr.H.Duski Samad,M.Ag
SDTP#series109.210426

Padang – Di tengah arus globalisasi, satu klaim sering diulang tanpa banyak dipertanyakan. Ilmu itu netral. Ia dianggap objektif, bebas nilai, dan tidak berpihak. Tetapi benarkah ilmu benar-benar berdiri di ruang hampa?

Pengalaman sejarah justru menunjukkan sebaliknya. Ilmu selalu lahir dari cara pandang tertentu. Dibentuk oleh budaya, kepentingan, dan ideologi. Apa yang disebut “kebenaran ilmiah” sering kali bukan sekadar fakta, tetapi juga tafsir yang dipengaruhi paradigma zaman.

Dalam Islam, persoalan ini sudah ditegaskan sejak awal. Al-Qur’an menolak pencampuran antara yang benar dan yang salah: “Dan janganlah kamu mencampuradukkan yang haq dengan yang batil…” (QS. Al-Baqarah: 42)

Ayat ini bukan sekadar pesan moral, tetapi prinsip berpikir. Tidak semua hal bisa disebut netral. Ada batas nilai yang tidak boleh dikaburkan.

Masalahnya, dalam wacana kontemporer. Terutama terkait feminisme dan seksualitas, banyak gagasan ideologis justru dipresentasikan sebagai “ilmu netral”.

Feminisme, misalnya, pada awalnya adalah perjuangan yang sah: menuntut keadilan, pendidikan, dan perlindungan bagi perempuan. Dalam hal ini, Islam bahkan telah lebih dahulu menegakkan prinsip kemuliaan perempuan.

Namun, sebagian arus feminisme hari ini bergerak melampaui titik itu. Ia tidak lagi sekadar memperjuangkan keadilan, tetapi mulai mengaburkan perbedaan laki-laki dan perempuan, mempertanyakan institusi keluarga, bahkan merelatifkan norma agama.

Pada saat yang sama, dalam diskursus seksualitas, penyimpangan perilaku tidak lagi dipandang sebagai masalah etika, tetapi dipromosikan sebagai variasi yang sah dengan legitimasi yang sama. Ini ilmiah, ini netral.

Di sinilah problem mendasarnya. Yang disajikan bukan sekadar ilmu, tetapi sebuah worldview yang menempatkan kebebasan sebagai nilai tertinggi, bahkan di atas moralitas dan fitrah.

Baca Juga:  Sertijab Sekda Padang Pariaman Antara Kemampuan, Loyalitas, Air Mata dan Aroma Rebutan Pengaruh

Al-Qur’an memberi batas yang tegas: “Bahkan kamu adalah kaum yang melampaui batas.” (QS. Al-A’raf: 81)

Kebebasan, dalam pandangan Islam, bukan tanpa batas. Ia selalu diikat oleh tanggung jawab moral. Karena itu, tidak semua yang diinginkan manusia dapat dibenarkan, meskipun dibungkus dengan bahasa ilmiah.

Secara ilmiah pun, klaim netralitas telah lama dipersoalkan. Ilmu berkembang dalam paradigma. Ia tidak steril dari nilai. Karena itu, ketika suatu gagasan tampil sebagai “ilmiah”, masyarakat tidak boleh kehilangan daya kritis. Tidak semua yang tampak objektif benar-benar bebas kepentingan.

Di titik ini, momentum Hari Kartini, 21 April, menjadi relevan untuk direnungkan. Raden Ajeng Kartini bukan sekadar simbol emansipasi, tetapi representasi kegelisahan intelektual terhadap ketidakadilan. Ia memperjuangkan perempuan agar berilmu, bermartabat, dan merdeka dari kebodohan. Bkan merdeka tanpa arah.

Pertanyaannya? apakah emansipasi hari ini masih sejalan dengan ruh Kartini, atau telah bergeser menjadi kebebasan tanpa batas?

Kartini tidak pernah mengajarkan perempuan untuk menanggalkan nilai. Ia justru mencari cahaya. Ilmu yang memerdekakan, tetapi tetap berakar pada martabat dan kemanusiaan. Dalam bahasa yang lebih sederhana. Kartini memperjuangkan pencerahan, bukan sekadar kebebasan.

Al-Qur’an memberi fondasi yang seimbang:“Barang siapa beramal saleh, baik laki-laki maupun perempuan… Kami berikan kehidupan yang baik.” (QS. An-Nahl: 97)

Inilah konsep emansipasi dalam Islam: keadilan yang menghormati fitrah, bukan kesetaraan yang menghapus perbedaan.

Karena itu, Hari Kartini seharusnya tidak berhenti pada seremoni, tetapi menjadi momen evaluasi. Apakah kita sedang melanjutkan perjuangan Kartini, yakni membangun perempuan yang cerdas, beradab, dan bermartabat. Atau justru menjerumuskan makna emansipasi ke dalam arus ideologi yang menjauhkan perempuan dari jati dirinya?

Baca Juga:  Instagram Tak Lagi Gunakan Enkripsi E2EE, Pengguna Diminta Simpan Pesan Penting

Di era global, perempuan memang harus cerdas. Tetapi kecerdasan tanpa arah nilai bisa berubah menjadi kebingungan. Perempuan harus berdaya. Tetapi daya tanpa akhlak bisa kehilangan makna. Dan perempuan harus merdeka. Tetapi kemerdekaan tanpa hikmah bisa berujung pada ketercerabutan dari fitrah dan peradaban.

Di sinilah peran pendidikan menjadi krusial. Ilmu tidak cukup diajarkan sebagai pengetahuan, tetapi harus dibingkai dengan nilai. Tanpa itu, ilmu justru bisa menjadi alat pembenaran bagi keinginan, bukan penuntun menuju kebenaran.

Pada akhirnya, kita perlu jujur. Tidak ada ilmu yang sepenuhnya netral. Yang ada adalah ilmu yang terbuka dengan nilai yang dibawanya, dan ilmu yang menyembunyikan nilai itu di balik klaim objektivitas.

Dalam situasi ini, tauhid menjadi kompas. Ia menuntun cara berpikir, membedakan antara yang benar dan yang salah, serta menjaga agar kebebasan tetap berada dalam koridor kemuliaan.

Hari Kartini mengingatkan kita bahwa cahaya ilmu harus memiliki arah. Sebab cahaya yang tidak dipandu nilai bisa menyesatkan. Tetapi cahaya yang dipandu tauhid akan melahirkan peradaban yang memuliakan perempuan, menjaga fitrah, dan menuntun manusia menuju kebaikan. Selamat Hari Kartini. (DS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *