Asril putra Desa Sungai Pasak Kota Pariaman akan dikukuhkan sebagai Guru Besar ISI Padang Panjang, Rabu, 8 April 2026
Padang Panjang – Tak banyak yang mampu menapaki jalan panjang dunia akademik hingga mencapai puncaknya. Namun, perjalanan itu kini menemukan ujungnya pada sosok Prof.Dr.Asril, S.Kar., M.Sn,M.Hum, putra Sungai Pasak, Kota Pariaman yang resmi menyandang gelar profesor setelah menempuh lorong panjang pendidikan hingga jenjang doktoral.
Ini merupakan sebuah capaian yang bukan sekadar gelar, melainkan jejak ketekunan, pengabdian, dan cinta pada seni yang tak pernah padam.
Pada Rabu (8/4/2026) pagi, di Gedung Pertunjukan Hoeriyah Adam, Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang, Sumatera Barat, momen sakral itu akan berlangsung.
Di hadapan sivitas akademika, Asril akan menerima Surat Keputusan Guru Besar sekaligus menyampaikan orasi ilmiah. Sebuah refleksi intelektual dari perjalanan panjangnya di dunia seni pertunjukan.
Dalam orasi bertajuk “Disrupsi Teknologi Digital pada Pertunjukan Langsung ke Virtual”, Asril menggugat perubahan zaman yang kian tak terbendung.
Ia menyoroti bagaimana seni pertunjukan yang dulunya sakral. Ruang pertemuan antara seniman dan penonton. Terus mengalami pergeseran drastis. Dulu, emosi dan empati lahir dari kebersamaan dalam satu ruang. Kini, layar-layar digital menggantikannya.
Pertunjukan tak lagi mensyaratkan kehadiran fisik. Penonton bisa menikmati karya seni dari mana saja di rumah, di perjalanan, bahkan di sela aktivitas sehari-hari. Teknologi memangkas jarak, waktu, dan biaya. Namun di sisi lain, ia juga mengubah makna pertemuan itu sendiri: dari pengalaman kolektif menjadi konsumsi personal.
Menurut Asril, perubahan ini bukan sekadar tantangan, tetapi juga peluang. Seni harus beradaptasi tanpa kehilangan ruhnya. Di tengah gelombang digitalisasi, ia mengajak dunia seni untuk tidak sekadar bertahan, tetapi juga menemukan bentuk baru yang tetap berpijak pada nilai-nilai kultural.
Pengukuhan ini juga menandai peran barunya sebagai Guru Besar dalam bidang Pengkajian Seni Pertunjukan di ISI Padang Panjang. Ia berharap mengiringi agar pemikiran dan dedikasinya mampu memperkuat fondasi keilmuan seni sekaligus mengangkat khazanah budaya Minangkabau ke panggung yang lebih luas.
Asril memulai langkahnya dari pendidikan sederhana di kampung halaman. Dari SD Sungai Pasak, PGAN 4 tahun Padusunan, MAN Gunung Pangilun hingga perguruan tinggi seni, ia menapaki setiap jenjang dengan konsistensi.
Karier akademiknya dimulai sejak diangkat sebagai tenaga pengajar di ASKI Padang Panjang pada 1987, dan terus berlanjut hingga kini sebagai dosen di ISI Padang Panjang.
Dedikasinya tak pernah lepas dari akar budaya. Ia meneliti, mengkaji, dan menghidupkan kembali musik tradisi Minangkabau. Terutama dari Pariaman.
Penelitiannya tentang gandang tasa dalam ritual Tabuik menjadi salah satu tonggak penting dalam dunia akademik seni pertunjukan. Bahkan, riset doktoralnya memperdalam makna Tabuik sebagai ekspresi ritual dan budaya masyarakat.
Tak hanya berhenti pada penelitian, Asril juga aktif menulis dan mempublikasikan karya ilmiah di tingkat nasional hingga internasional. Berbagai buku, artikel jurnal, hingga kajian lintas budaya telah lahir dari tangannya. Agaknya ia menegaskan posisinya sebagai akademisi yang tak hanya mengajar, tetapi juga mencipta dan menginspirasi.
Kini, gelar profesor bukanlah akhir, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar. Dari kampung kecil di Sungai Pasak Pariaman, Asril telah membuktikan bahwa ketekunan mampu menembus batas. Bahwa seni, jika dirawat dengan ilmu dan dedikasi, akan selalu menemukan jalannya. Bahkan di tengah disrupsi zaman.
Sedangkan program S1 tahun 1989 hingga 1991 pada Jurusan Karawitan bidang penciptaan di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Denpasar.
Ia fokus penggarapan pada musik Minang. Khususnya musik tradisi Pariaman. Pada tahun 1999 hingga 2002, ia melanjutkan studi magister di Program Studi Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa, Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta dengan prediket cumlaude.
Ia melakukan penelitian tesis pada pertunjukan gandang tasa dalam ritual Tabuik di Pariaman. Lantas, Asril lebih memfokuskan riset pada musik-musik Minangkabau dan pertunjukannya, sembari tetap melakukan praktik pada musik tersebut dan pengembangannya.
Tak sampai disitu, Asril masuk studi doktoral di Program Studi Doktor Penciptaan dan Pengkajian Seni, Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta pada tahun 2011-2016. Disertasi penelitian lebih difokuskan kepada Tabuik sebagai pertunjukan ritual masyarakat Pariaman.
Penelitian tentang Tabuik merupakan salah satu penelitian paling serius dan besar yang dilakukan Asril. Selain itu, ia melakukan penelitian terhadap berbagai objek material yang tercakup dalam seni pertunjukan, pertunjukan ritual, dan pertunjukan budaya. Wilayah studi/kajian semakin luas hingga pada seni pertunjukan Melayu.
Tak pelak lagi, sejumlah hasil penelitian telah dipublikasikan di berbagai jurnal dan proceeding tingkat nasional dan internasional hingga bereputasi. Selain itu, Asril juga sudah menulis sejumlah buku dalam bentuk tunggal, bersama, dan book chapter.
Penelitian terbaru yang dilakukan tentang pertunjukan Bapereih gandang tasa, hidritas pada musik Gamad, serta konsep utama pertunjukan pada masyarakat Pariaman. Adu Tandiang.
Lahir di Sungai Pasak pada 20 Mei 1961
dari pasangan Sidi Muchtar dan Nurman. Ia memiliki 2 orang anak. Yakni Drg.Syania Artha Rovynia dan dr. Zhafran Abartha Riyadhi serta 2 orang cucu.
Selamat dan sukses untuk Prof.Dr.Asril. Semoga ilmu dan pengabdiannya terus mengalir, menguatkan jati diri budaya, dan memberi makna bagi perjalanan bangsa.(aa).













