Berita  

Wali Kota Yota Balad Terharu Dengar WBP Lapas Pariaman Terima Ijazah Dibalik Jeruji

Kota Pariaman – Tangis itu pecah pelan di sudut Mushala Lapas Kelas II B Pariaman, Sumatera Barat. Bukan karena luka, tapi karena harapan yang akhirnya menemukan bentuknya. Sebanyak 22 warga binaan menggenggam ijazah Paket A, B, dan C. Ini bukti bahwa hidup tak sepenuhnya runtuh meski pernah jatuh sedalam-dalamnya.

Ironisnya, di tempat yang selama ini dianggap akhir dari segalanya, justru lahir awal yang baru. Di balik tembok penjara yang dingin, mereka belajar mengeja masa depan, merangkai kembali harga diri yang sempat tercerai oleh kesalahan masa lalu.

Wali Kota Pariaman Yota Balad berdiri menyerahkan ijazah kepada mereka warga binaan pemasyarakatan (WBP), suaranya bergetar dan terharu, tak sekadar memberi sambutan.

Ia menyaksikan sendiri bagaimana pendidikan mampu menembus batas paling keras, stigma.

Menurut Yota Balad, ini bukan program biasa, tapi sebuah perlawanan terhadap cara lama memperlakukan manusia.

“Ijazah ini bukan kertas biasa,” seolah menjadi pesan yang tak terucap. Ini adalah pengakuan bahwa mereka masih layak diberi kesempatan, masih pantas dipercaya untuk kembali berdiri di tengah masyarakat yang seringkali kejam menghakimi.

Sejak 2023, kerja sama antara pemerintah dan Lapas telah melahirkan puluhan lulusan. Namun angka itu hanyalah permukaan. Di baliknya, ada cerita tentang malam-malam panjang penuh penyesalan, tentang tekad yang diam-diam tumbuh di ruang sempit tanpa tepuk tangan.

Pemerintah Kota Pariaman menegaskan satu hal yang kerap dilupakan. Pendidikan bukan hadiah, melainkan hak. Dan hak itu tak boleh hilang hanya karena seseorang pernah tersandung hukum. Ketika mereka bebas nanti, yang dibawa bukan lagi label “mantan narapidana”, tetapi bekal untuk hidup lebih layak.

Sementara itu, Kepala Lapas Kelas II B Pariaman, Boy Irfan Arslan mengingatkan dengan nada tegas namun penuh empati. Penjara hanya membatasi ruang, bukan masa depan.

Ia melihat sendiri bagaimana ijazah itu mengubah cara warga binaan memandang diri mereka dari yang merasa gagal, menjadi yang berani berharap.

Dan mungkin, tamparan terbesar justru bukan untuk mereka yang di dalam penjara. Melainkan untuk kita di luar sana. Sudah sejauh mana kita memberi ruang bagi mereka yang ingin berubah?

Karena hari itu, di balik jeruji, mereka telah membuktikan satu hal: manusia selalu punya peluang untuk bangkit, jika diberi kesempatan.(ssc).

Exit mobile version