Berita  

Pameran Rauik Rang Mudo Dorong Kreativitas dan Ekonomi Kreatif

Sekretaris Dinas Kebudayaan Sumatera Barat saat mampir di salah satu stand.
Sekretaris Dinas Kebudayaan Sumatera Barat saat mampir di salah satu stand.

Padang – Kreativitas pelajar sekolah menengah kejuruan (SMK) mendapat ruang apresiasi melalui Pameran Seni Rupa, Kriya, dan Workshop bertajuk Rauik Rang Mudo di Galeri Taman Budaya Sumatera Barat.

Pameran tersebut resmi dibuka pada Kamis (24/9/2026) dan akan berlangsung hingga 3 Oktober 2026. Kegiatan ini tidak hanya menjadi wadah untuk menampilkan karya siswa, tetapi juga menjadi sarana memperkenalkan kekayaan budaya lokal sekaligus membuka peluang pengembangan ekonomi kreatif.

Pembukaan pameran turut dimeriahkan penampilan grup musik dari SMK Negeri 7 Padang. Kegiatan ini merupakan hasil kerja sama UPT Taman Budaya Sumatera Barat dengan tiga sekolah kejuruan, yakni SMK Negeri 4, SMK Negeri 8, dan SMK Negeri 7 Padang.

Sekretaris Dinas Kebudayaan Sumatera Barat, Fadhli Junaidi, mengatakan kegiatan tersebut difasilitasi melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) tahun anggaran 2026.

Menurutnya, pameran ini menjadi bagian kedua dari program kolaborasi dengan institusi pendidikan yang dilaksanakan Taman Budaya Sumatera Barat pada tahun ini. Sebelumnya, Taman Budaya telah menggelar pameran bersama Universitas Negeri Padang pada April 2026.

Pelibatan generasi muda dalam kegiatan kebudayaan, lanjut Fadhli, juga direncanakan terus dikembangkan, termasuk dalam agenda Pekan Kebudayaan Provinsi tahun 2026.

Sementara itu, Kepala UPT Taman Budaya Sumatera Barat, M Devit, menjelaskan bahwa pameran tersebut dirancang untuk memberikan ruang bagi siswa dalam mengembangkan sekaligus memperkenalkan potensi mereka di bidang seni.

“Tujuan kegiatan ini untuk mengeksplorasi bakat dan minat dari anak-anak kita. Kami juga ingin mempromosikan semua hasil karya di bidang seni rupa dan kriya, termasuk produk batik, film dan karya lainnya,” ujar Devit.

Berbagai karya siswa ditampilkan dalam pameran tersebut. Karya yang dipamerkan antara lain tekstil dan batik, desain interior, busana, keramik, animasi, hingga berbagai produk kriya seperti gantungan kunci, rehal, dan kotak tisu.

Kurator pameran, Iswandi Bagindo Parpatiah, menilai pengembangan produk kriya di Sumatera Barat masih memiliki peluang yang besar, terutama jika dipadukan dengan unsur budaya lokal.

Menurutnya, produk kerajinan yang mengangkat identitas budaya daerah dapat menjadi alternatif suvenir bagi wisatawan yang berkunjung ke Sumatera Barat.

“Di beberapa objek wisata, banyak wisatawan mengeluh tidak mendapat souvenir yang khas daerah yang bisa dijadikan oleh-oleh. Kalau songket itu sudah selesai, perlu ada yang lain lagi,” katanya.

Iswandi menyebut tradisi kriya sebenarnya telah berkembang sejak lama di Minangkabau. Potensi tersebut, menurutnya, perlu terus dikembangkan agar tidak hanya menjadi bagian dari pelestarian budaya, tetapi juga mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

“Kriya kita sebetulnya sudah tumbuh dari awal. Nah, bagaimana mengembangkan potensi kultural yang ada ini hingga menjadi sumber ekonomi, dan memproteksinya untuk masa depan,” ujarnya.

Fadhli Junaidi juga menekankan pentingnya generasi muda menjaga dan mengembangkan identitas budaya daerah di tengah perkembangan budaya global.

“Jangan anak-anak kita terlalu terlena dengan budaya-budaya yang ada di luar. Kita kan kaya, mengapa ini tidak kita manfaatkan sehingga nanti bisa menjadi nilai ekonomi bagi anak-anak kita juga nantinya ke depan,” tuturnya.

Selain mendorong kreativitas, Fadhli mengatakan Taman Budaya berupaya mempertemukan para perajin dan pelaku seni dengan calon kolektor maupun pihak yang memiliki ketertarikan terhadap karya seni.

“Tentu kita harus juga menyediakan karya-karya yang cukup bagus dan itu memang layak bagi mereka miliki,” tambahnya.

Kepala SMK Negeri 4 dan SMK Negeri 8 Padang, Ita Desnatalia, mengapresiasi penyelenggaraan pameran tersebut. Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan pada tahun-tahun berikutnya.

“Kami mengapresiasi kegiatan ini. Harapannya ini tidak selesai di sini, tetapi juga untuk tahun-tahun berikutnya,” ujarnya.

Ita berharap pengalaman mengikuti pameran dapat membantu siswa mengembangkan kemampuan seni sekaligus menumbuhkan jiwa kewirausahaan.

“Harapan kami anak-anak bisa menjadikan pameran ini sebagai pembelajaran untuk mengembangkan keahlian di bidang seni rupa dan kriya. Sehingga ke depan mampu memberikan nilai ekonomi dari karya yang dihasilkan,” katanya.

Pameran Rauik Rang Mudo menjadi salah satu ruang bagi pelajar SMK untuk menunjukkan kemampuan dan kreativitas mereka. Selain memperkenalkan karya siswa kepada masyarakat, kegiatan tersebut juga mendorong upaya pelestarian budaya sekaligus membuka wawasan tentang potensi ekonomi dari seni dan kriya lokal.(des*)

Exit mobile version