Jakarta — Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dinilai dapat memberikan keuntungan bagi sektor pariwisata nasional. Kondisi tersebut membuat biaya perjalanan di Indonesia menjadi relatif lebih terjangkau bagi wisatawan dari luar negeri.
Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI), Hariyadi B.S. Sukamdani, menyebut pelemahan rupiah dapat dimanfaatkan sebagai momentum untuk meningkatkan daya tarik Indonesia di mata wisatawan mancanegara.
Menurut dia, wisatawan yang menggunakan mata uang asing akan mendapatkan keuntungan dari nilai tukar tersebut karena pengeluaran selama berada di Indonesia menjadi lebih kompetitif. Meski demikian, sektor pariwisata masih menghadapi sejumlah tantangan akibat ketidakpastian ekonomi dunia dan situasi geopolitik.
Hal itu disampaikan Hariyadi seusai konferensi pers JWITF di Gedung Sapta Pesona, Kementerian Pariwisata, Rabu (23/9/2026).
Ia menilai perkembangan kunjungan wisatawan dari kawasan regional menjadi salah satu indikator adanya peluang tersebut. Malaysia, misalnya, menunjukkan peningkatan arus wisatawan yang berkunjung ke sejumlah destinasi di Indonesia.
Di sisi lain, wisatawan dari negara-negara dengan perjalanan jarak jauh masih menghadapi kendala berupa tingginya biaya penerbangan. Harga tiket pesawat serta komponen operasional seperti bahan bakar pesawat atau avtur turut menjadi faktor yang memengaruhi minat perjalanan.
Berdasarkan data Refinitiv, rupiah pada perdagangan tersebut tercatat melemah 0,20 persen ke level Rp17.860 per dolar AS. Sementara itu, nilai tukar rupiah yang disebut dalam laporan sebelumnya berada di posisi Rp17.916 per dolar AS atau mengalami pelemahan 0,55 persen.
Hariyadi mengatakan pelaku industri pariwisata akan terus berupaya memanfaatkan kondisi nilai tukar untuk meningkatkan kunjungan wisatawan asing. Upaya tersebut dilakukan di tengah situasi global yang masih dipengaruhi berbagai tekanan ekonomi dan geopolitik.
Ia juga melihat prospek kunjungan wisatawan mancanegara pada 2026 masih terbuka. Jumlah wisatawan asing yang datang ke Indonesia pada tahun sebelumnya disebut telah mendekati angka 16 juta kunjungan.
Dengan perkembangan tersebut, Hariyadi memperkirakan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara sepanjang 2026 berpotensi menembus angka lebih dari 16 juta.(BY)
