Mitigasi Erupsi, Dua Cekdam Dikebut di Lumajang

Proyek pembangunan 2 cekdam di Lumajang dikebut.
Proyek pembangunan 2 cekdam di Lumajang dikebut.

Jakarta – Pemerintah melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas mempercepat pembangunan dua cekdam berukuran besar di wilayah yang terdampak erupsi Gunung Semeru, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Selasa (15/9/2026).

Kedua bangunan tersebut diproyeksikan menjadi bagian dari upaya mitigasi jangka panjang untuk mengendalikan aliran lahar hujan sekaligus menahan material debris vulkanik yang berpotensi mengancam kawasan di sekitar lereng Semeru.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Lumajang, Is Nugroho, menyampaikan pembangunan cekdam berlokasi di sepanjang alur lahar Besuk Kobokan, Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo.

Menurut dia, konstruksi tersebut dirancang mampu menampung sedimentasi material vulkanik hingga sekitar 1,34 juta meter kubik.

Keberadaan cekdam diharapkan dapat memberikan perlindungan terhadap permukiman penduduk, area pertanian, maupun fasilitas publik yang berada di sekitar aliran Besuk Kobokan. Infrastruktur itu juga menjadi salah satu langkah untuk mengurangi risiko banjir lahar dingin dan bahaya Awan Panas Guguran (APG) Gunung Semeru.

Baca Juga:  Tragedi Petir di Petarukan, Warga Tahlilan Tersambar Saat Berteduh di Bangunan Keranda

Mengingat proyek berada di kawasan yang memiliki tingkat kerawanan bencana tinggi, BPBD Lumajang meningkatkan pengawasan terhadap aspek keselamatan para pekerja.

Is mengatakan kesiapsiagaan diperkuat dengan pengoperasian sistem peringatan dini serta pemantauan aktivitas gunung secara berkala. Apabila terjadi peningkatan aktivitas vulkanik secara tiba-tiba, pekerja yang berada di kawasan Besuk Kobokan akan segera diarahkan untuk meninggalkan lokasi menuju tempat yang lebih aman.

Percepatan pembangunan infrastruktur mitigasi tersebut dilakukan di tengah aktivitas vulkanik Gunung Semeru yang masih meningkat setelah erupsi pada Senin pagi.

Data Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Semeru menunjukkan puluhan kejadian gempa letusan tercatat dalam kurun waktu 12 jam terakhir. Kondisi puncak gunung juga beberapa kali sulit diamati karena tertutup kabut tebal.

Baca Juga:  Anak Desa Sungai Pasak ke Panggung Akademik Tertinggi, Asril Menembus Batas Seni dan Zaman

BPBD Lumajang mengingatkan warga dan para penambang pasir agar tidak memasuki kawasan yang telah ditetapkan sebagai zona berbahaya. Masyarakat diminta mengikuti rekomendasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) serta menjauhi area sepanjang aliran Besuk Kobokan yang berisiko terdampak aktivitas vulkanik.(des*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *