Kota Pariaman – Di tengah gegap gempita perayaan Idul Fitri 1447 H, ada satu suara yang tak lagi seramai dulu. Derit kayu dan teriakan riang dari Buayan Kaliang. Permainan tradisional khas Pariaman, Sumatera Barat itu, kini seperti menunggu waktu untuk benar-benar hilang. Tergeser zaman dan sempitnya ruang hidup yang tersisa.
Sudah lebih dari tujuh dekade, Buayan Kaliang menjadi denyut nadi hiburan rakyat setiap Lebaran.
Lokasinya tak pernah berubah, setia berdiri di belakang Masjid Nurul Bahari, dekat Pantai Gandoriah. Namun, yang berubah adalah jumlahnya. Dari belasan unit kini hanya tersisa hitungan jari.
Tak banyak yang tahu, di balik ayunan ekstrem itu ada kisah panjang keluarga yang menjaga warisan budaya. Nurhayati, yang akrab disapa Mak Inun, adalah generasi penerus yang bertahan di tengah keterbatasan.
Ia melanjutkan usaha sang ayah, Abang Ayo, yang dulu menjadi pelopor Buayan Kaliang di Pariaman.
“Dulu ada 15 unit, sekarang tinggal tiga yang bisa dimainkan,” ucap Mak Inun dengan nada getir. Keterbatasan lahan membuat sebagian Buayan Kaliang harus dipindahkan ke lokasi lain, sekadar agar tetap hidup dan menghasilkan.
Buayan Kaliang bukan sekadar permainan. Rangka kayu sederhana dengan empat kotak penumpang itu digerakkan oleh tenaga manusia, menghadirkan sensasi yang memacu adrenalin.
Dalam satu putaran, tawa, teriakan, dan ketegangan bercampur jadi satu. Sebuah pengalaman yang tak bisa digantikan wahana modern.
Bagi pengunjung seperti Rini, tradisi ini adalah nostalgia yang hidup kembali. Dulu ia datang bersama teman, kini bersama keluarga kecilnya.
“Sensasinya tetap sama, justru lebih berkesan. Karena, bisa berbagi dengan anak dan suami,” katanya, tersenyum.
Namun harapan terbesar justru datang dari Mak Inun. Ia memohon agar pemerintah tidak mengubah tanah tempat Buayan berdiri menjadi beton.
“Kalau dicor, kami tidak bisa lagi memasang tonggak kayu. Ini bisa jadi akhir dari Buayan Kaliang,” ujarnya lirih. Ini sebuah peringatan bahwa tradisi bisa mati. Bukan karena dilupakan, tapi karena tak lagi diberi ruang.(ssc).
