Padang Pariaman – Tak semua pergantian jabatan berjalan dingin dan datar. Di Hall IKK Parit Malintang, Selasa 7 April 2026 itu, suasana justru terasa tegang. Seperti ada yang ditahan, ada yang dilepas, dan ada pula yang diam-diam sedang menunggu momentum.
Bahkan, Sertijab Sekdakab Padang Pariaman, Sumatera Barat bukan sekadar seremoni, tapi panggung sunyi perpindahan kendali birokrasi.
Rudy Repenaldi Rilis sebagai Sekdakab Padang Pariaman sejak 31 Agustus 2021 – 6 April 2026 itu, dilepas dengan penuh hormat, namun tak bisa menutupi getar kehilangan.
Ia merupakan alumni STPDN Jatinangor adalah salah seorang ASN birokrakrat karir yang visioner dan sangat menguasai regulasi. Juga bisa membaca tersurat, tersirat dan isyarat kemana arah kebijakan yang akan dilakukan pimpinan.
Selama 23 tahun mengabdi di Kabupaten Padang Pariaman, ia bukan hanya pejabat administratif. Di mulai menjadi Ajudan, Camat, Kabag, Kepala Dinas hingga menduduki jabatan Sekdakab.
Melainkan simpul kekuasaan yang memahami denyut internal pemerintahan hingga ke lapisan terdalam maupun ke akar rumput kepegawaian.
Di balik keheningan bercampur haru, terselip beragam pertanyaan dibenak muncul yang tak diucapkan. Setidaknya, mengapa harus sekarang?
Lumrah, pada setiap pergantian di posisi strategis seperti Sekda selalu menyisakan tafsir. Sebab jabatan ini bukan sekadar administratif, melainkan kunci stabilitas. Atau justru pintu masuk bagi perubahan arah kekuasaan.
Tongkat estafet kini berada di tangan Hendra Aswara yang juga Inspektur. Status Pelaksana Harian (Plh) mungkin terdengar sementara, tapi dalam praktiknya, posisi ini sering menjadi titik krusial.
Agaknya antara menjaga keseimbangan atau terseret arus kepentingan yang lebih besar.
Wakil Bupati Rahmat Hidayat mencoba meredam dinamika dengan narasi persatuan. Ia menekankan pentingnya sinergi dan kebersamaan.
Namun demikian bahwa publik paham, kalimat seperti itu kerap muncul justru ketika soliditas sedang diuji.
“Silaturahmi harus tetap dijaga”. Sebuah pesan yang terdengar sederhana, tapi menyimpan makna dalam tersirat.
Di tengah pergantian, loyalitas ASN seringkali bergerak dinamis. Ada yang tetap tegak lurus, ada yang mulai membaca arah, dan ada pula yang memilih menunggu dengan kalkulasi sendiri.
Rudy Repenaldi Rilis menutup masa jabatannya dengan nada haru. Dari titik nol hingga kursi Sekdakab, ia menapaki jalur panjang penuh tekanan dan keputusan. Permintaan maaf yang ia sampaikan terasa jujur. Seolah menjadi penutup dari dinamika panjang yang tak selalu terlihat di permukaan.
Kini sorotan mengarah pada Hendra Aswara. Ia datang dengan komitmen, namun juga dengan beban ekspektasi dan sorotan publik.
Tantangannya bukan hanya menjalankan tugas, tapi memastikan mesin birokrasi tetap bergerak di tengah kemungkinan tarik-menarik kepentingan.
Sertijab ini akhirnya membuka satu kenyataan yang tak bisa ditutup-tutupi. Birokrasi bukan ruang steril dari dinamika kekuasaan. Ataupun mungkin bisa saja isyarat eksternal. Waktu yang akan menjawab..!
Dan di Padang Pariaman, hari itu menjadi penanda bahwa setiap pergantian bukan hanya soal jabatan, tetapi tentang siapa yang benar-benar memegang kendali arah ke depan. Entahlah?.(tansri).













