Kota Pariaman, KIPRAHONLINE – Kota Pariaman, Sumatera Barat bukan sekadar perebutan piala. Sebanyak 450 anak turun dalam Lomba Hafiz MDTA dan Hafiz Cilik se-Kota Pariaman 2026 yang digelar Pemerintah Kota (Pemko) Pariaman di GOR Rajo Bujang, Jumat (25/9/2026).
Di balik kompetisi itu, ada ambisi besar. Menjadikan hafalan Al-Qur’an sebagai bagian dari kehidupan setiap keluarga di Kota Pariaman. Wali Kota Yota Balad bersama Wakil Wali Kota Mulyadi membuka langsung kegiatan tersebut.
Yota Balad menegaskan lomba hafiz menjadi salah satu instrumen untuk mengukur keberhasilan program unggulan “Satu Rumah Satu Hafiz”, sekaligus memperkuat visi Pariaman sebagai kota yang beriman, saleh dan berakhlak melalui program Pariaman Risalah.
Target itu bukan tanpa pijakan. Pemantauan tim Pemko Pariaman mencatat sekitar 3.000 anak hafiz telah tersebar di berbagai wilayah kota.
Angka tersebut menjadi modal untuk mendorong target yang lebih besar: setiap rumah di Kota Pariaman diharapkan memiliki sedikitnya satu penghafal Al-Qur’an.
“Lomba ini tidak hanya sekadar ajang bertanding, tetapi bagian dari cara kita mencetak generasi yang Qur’ani dan berakhlak mulia. Kita ingin memastikan setiap rumah kelak memiliki minimal satu hafiz Al-Qur’an,” ujar Yota Balad.
Namun, target besar itu tidak bisa dibebankan kepada pemerintah semata. Yota Balad mengapresiasi peran guru mengaji dan tenaga pendidik MDTA yang menjadi garda terdepan pembinaan anak-anak.
Pemko Pariaman juga menyiapkan peningkatan kesejahteraan dan insentif bagi para pengajar agama guna menjaga keberlanjutan pendidikan Al-Qur’an.
Antusiasme 450 peserta bahkan mendorong Pemko Pariaman menaikkan level agenda tersebut. Setelah lomba tingkat kota, Pariaman ditargetkan menjadi tuan rumah Lomba Hafiz Tingkat Provinsi Sumatera Barat, sekaligus menjadikannya agenda rutin tahunan.
Pemerintah mengajak ulama, guru, orang tua, MDTA, lembaga pendidikan Al-Qur’an dan seluruh masyarakat bergerak bersama.
“Terutama kepada orang tua yang masih punya anak-anak, dari PAUD, TK, SD, mari kita memberikan pembelajaran Al-Qur’an supaya mereka bisa menjadi hafiz Al-Qur’an di Kota Pariaman,” seru Yota Balad.
Sebab bagi Pemko Pariaman, 3.000 hafiz bukan garis akhir. Melainkan pijakan menuju satu cita-cita yang jauh lebih besar: satu rumah, satu hafiz, satu generasi yang tumbuh bersama Al-Qur’an.(899)



