Jakarta – Persaingan di industri otomotif China semakin memanas seiring ketatnya kompetisi antar produsen kendaraan, terutama di sektor mobil listrik. Di tengah kondisi tersebut, diperkirakan hanya segelintir pemain besar yang akan bertahan dan mendominasi pasar dalam jangka panjang.
CEO Xpeng, He Xiaopeng, memprediksi bahwa nantinya hanya sekitar lima produsen otomotif di China yang mampu mencapai skala bisnis raksasa dengan pendapatan mencapai triliunan yuan dan laba hingga ratusan miliar yuan. Pandangan tersebut ia sampaikan dalam sebuah program di China Central Television (CCTV) bersama CEO Nio, William Li, yang membahas arah perkembangan industri kendaraan listrik.
He menjelaskan bahwa untuk mencapai level tersebut, sebuah produsen mobil perlu menjual lebih dari 7 juta unit kendaraan setiap tahun, meskipun angka itu bisa berbeda tergantung harga rata-rata produk yang dipasarkan.
Saat ini, hanya sedikit produsen global yang berada pada level pendapatan serupa, seperti Toyota, Volkswagen Group, Kia-Hyundai, Stellantis, dan General Motors. Di China sendiri, sejumlah nama besar sudah mendekati skala tersebut, termasuk BYD, SAIC, Geely, Chery, dan Great Wall Motor, dengan BYD menjadi yang tertinggi dari sisi pendapatan.
Selain itu, He juga menyoroti kondisi industri otomotif China yang menurutnya masih mengalami “persaingan berlebihan” atau overcapacity, terutama dengan banyaknya peluncuran model baru di pasar. Ia menilai industri baru akan lebih sehat jika jumlah peluncuran kendaraan mulai terkendali dan tidak berlebihan di berbagai pameran otomotif.
Dalam kondisi ideal tersebut, ia memperkirakan perusahaan seperti Xpeng, Nio, dan Li Auto berpotensi mencapai keuntungan tahunan yang signifikan di masa depan.
Di sisi lain, He juga menyinggung langkah perubahan yang dilakukan Nio dalam setahun terakhir dan mengapresiasi percepatan transformasi perusahaan tersebut. Namun, ia dan William Li memiliki pandangan berbeda terkait teknologi kendaraan Extended Range Electric Vehicle (EREV). He menilai teknologi itu masih menjadi jembatan penting dalam transisi energi, sementara Nio tetap fokus pada kendaraan listrik murni (BEV) sebagai tujuan akhir.
Berdasarkan data China EV DataTracker, Xpeng mencatat penjualan 94.693 unit kendaraan energi baru secara global pada periode Januari hingga April 2026, atau mengalami penurunan sekitar 27,4 persen. Penurunan tersebut dipengaruhi oleh perlambatan pasar domestik, salah satunya akibat pengurangan subsidi kendaraan energi baru.
Meski demikian, Xpeng tetap menargetkan penjualan hingga 600.000 unit kendaraan tahun ini, dengan dukungan model baru seperti SUV besar Xpeng GX yang diharapkan dapat mendorong pertumbuhan penjualan.(BY)













