Tiga Pemuda Transendensi untuk Spirit Anak Muda Dalam Peradaban Digital Abad ke-21

Oleh: Duski Samad

Guru Besar UIN Imam Bonjol

Pemuda dan Krisis Orientasi Peradaban
Setiap tanggal 28 Oktober bangsa ini memperingati hari Sumpah Pemuda. Dalam ikhtiar merawat spirit pemuda patut diberikan dukungan pada pemuda, khususnya peran pemuda dalam peradaban.

Peradaban tidak hanya ditentukan oleh kemajuan teknologi, tetapi juga kualitas manusia yang mengendalikannya. Abad ke-21 melahirkan generasi muda yang semakin cerdas secara digital, tetapi belum tentu matang secara spiritual, intelektual, dan moral.

Informasi semakin mudah diperoleh, sementara kebijaksanaan tidak selalu tumbuh bersamanya. Media sosial memperluas kebebasan berekspresi, tetapi juga membuka ruang manipulasi, disinformasi, dan krisis keteladanan.

Persoalan mendasar generasi muda bukan semata-mata kekurangan pengetahuan, melainkan kehilangan orientasi nilai. Kecerdasan tanpa iman berisiko menjadi alat manipulasi. Ilmu tanpa kerendahan hati melahirkan kesombongan. Keberanian tanpa akhlak dapat berubah menjadi kekerasan.

Pendidikan memerlukan paradigma pemuda transendensi. Yakni generasi yang mampu melampaui kepentingan material, ego pribadi, dan popularitas dengan menjadikan nilai ketuhanan sebagai orientasi kehidupan.

Al-Qur’an dan sejarah Islam menghadirkan tiga figur inspiratif. Yakni Ashabul Kahfi, pemuda pendamping Nabi Musa, dan Ali bin Abi Thalib. Ketiganya merepresentasikan transendensi spiritual, intelektual, serta moral dan kepemimpinan.

Pemuda Kahfi, Transendensi Spiritual
Ashabul Kahfi merupakan simbol pemuda yang memiliki keteguhan iman dan keberanian mempertahankan prinsip ketika berhadapan dengan tekanan kekuasaan dan lingkungan sosial.

Allah SWT mengabadikan doa mereka dalam surah Al-Kahfi ayat 10: “Ya Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami.”

Doa tersebut mengandung dua kekuatan karakter, Rahmah. Yakni kesadaran membutuhkan pertolongan Allah, dan rasyad, yaitu petunjuk menuju keputusan yang benar.

Al-Kahfi ayat 13 menegaskan bahwa mereka adalah pemuda beriman yang memperoleh tambahan petunjuk dari Allah. Inilah kecerdasan spiritual yang melampaui kepentingan sesaat.

Dalam era digital, tekanan terhadap pemuda tidak selalu berasal dari penguasa, tetapi juga dari algoritma media sosial, budaya viral, hedonisme, dan konsumerisme. Banyak orang lebih takut kehilangan pengikut daripada kehilangan integritas.

Spirit Kahfi mengajarkan keberanian berbeda ketika lingkungan bergerak menjauhi kebenaran. Pemuda transendensi tidak menjadikan popularitas sebagai ukuran kebenaran, melainkan iman dan nurani sebagai pedoman tindakan.

Pemuda Musa, Transendensi Intelektual
Figur kedua adalah pemuda pendamping Nabi Musa yang dalam tradisi tafsir dikenal sebagai Yusya’ bin Nun. Kisahnya diabadikan dalam surah Al-Kahfi ayat 60–64.

Perjalanan tersebut menggambarkan bahwa pencarian ilmu memerlukan kesetiaan, ketekunan, kedisiplinan, dan kerendahan hati. Bahkan Nabi Musa menunjukkan kesungguhan menempuh perjalanan panjang demi memperoleh pengetahuan.

Baca Juga:  Pendaki Bawakaraeng Alami Gangguan Kesehatan

Karakter pemuda pendamping Musa dapat dirumuskan melalui pendekatan ACDC. Adalah Adaptif, Cerdas, Disiplin, dan Collaborative (Kolaboratif).

Adaptif berarti mampu menghadapi perubahan. Cerdas berarti mampu memahami dan mengolah informasi. Disiplin menunjukkan tanggung jawab terhadap amanah. Kolaboratif mencerminkan kemampuan bekerja sama dalam mencapai tujuan.

Ketika pemuda tersebut mengakui kelupaannya sebagaimana disebutkan dalam Al-Kahfi ayat 63, terdapat pelajaran tentang kejujuran intelektual. Kesalahan harus diakui, bukan disembunyikan.

Transendensi intelektual berarti melampaui kesombongan pengetahuan menuju kerendahan hati untuk terus belajar.

Dalam dunia kecerdasan buatan, kemampuan memperoleh jawaban bukan lagi satu-satunya ukuran kecerdasan. Pemuda harus mampu memeriksa kebenaran, memahami konteks, mengajukan pertanyaan kritis, dan mempertanggungjawabkan penggunaan teknologi.

Pemuda cerdas bukan mereka yang merasa mengetahui segalanya, melainkan mereka yang tidak pernah berhenti belajar.

Pemuda Ali, Transendensi Moral dan Kepemimpinan

Ali bin Abi Thalib merupakan figur pemuda yang dikenal memiliki kecerdasan, keberanian, kesetiaan, dan integritas.

Kesediaannya tidur di tempat tidur Rasulullah SAW pada malam hijrah memperlihatkan keberanian menghadapi risiko demi menjaga amanah dan keselamatan Nabi.

Keberanian Ali bukan sekadar keberanian fisik, tetapi keberanian moral yang dilandasi keyakinan dan tanggung jawab.

Transendensi moral berarti kemampuan melampaui kepentingan pribadi demi memperjuangkan kebenaran dan keadilan.

Generasi digital membutuhkan karakter tersebut. Keberanian menyampaikan pendapat di media sosial belum tentu mencerminkan keberanian moral. Seseorang dapat lantang mengkritik ketidakadilan, tetapi justru membenarkan kecurangan ketika menguntungkan kelompoknya.

Spirit Ali mengajarkan bahwa ilmu harus melahirkan keberanian, sedangkan keberanian harus dikendalikan oleh ilmu dan akhlak.

Aksi Konkret Pemuda Digital dari Kesadaran Menuju Gerakan

Transendensi pemuda tidak boleh berhenti sebagai gagasan normatif atau romantisme sejarah. Nilai-nilai Ashabul Kahfi, pemuda Musa, dan Ali harus diterjemahkan menjadi gerakan nyata dalam kehidupan digital.

Pertama, membangun gerakan literasi digital berakhlak. Pemuda perlu menjadi pelopor verifikasi informasi, melawan hoaks, menolak ujaran kebencian, dan membiasakan tabayun sebelum membagikan konten. Spirit Kahfi diwujudkan melalui keberanian mempertahankan kebenaran meskipun bertentangan dengan opini yang sedang viral.

Kedua, mengembangkan komunitas belajar dan inovasi teknologi. Spirit pemuda Musa diwujudkan melalui kelompok belajar AI, pelatihan pemrograman, riset kolaboratif, dan pendampingan literasi digital bagi masyarakat. Mahasiswa dan pelajar dapat membangun komunitas yang membantu sekolah, pesantren, dan pelaku UMKM memanfaatkan teknologi secara produktif.

Ketiga, menggerakkan kepemimpinan digital yang berintegritas. Spirit Ali diwujudkan melalui keberanian menolak perundungan digital, plagiarisme, penipuan daring, dan penyalahgunaan teknologi. Pemuda harus menjadi teladan dalam kejujuran akademik, etika komunikasi, serta keberanian menyuarakan keadilan berdasarkan fakta.

Keempat, menciptakan karya digital yang bermanfaat. Pemuda tidak cukup menjadi konsumen konten, tetapi harus menjadi produsen pengetahuan melalui tulisan, video edukasi, aplikasi, kewirausahaan digital, dan inovasi sosial yang menjawab kebutuhan masyarakat.

Baca Juga:  Kecelakaan Tunggal Bus, 2 Penumpang Tewas

Kelima, membangun gerakan pengabdian berbasis teknologi. Organisasi pemuda, kampus, dan pesantren dapat mengembangkan program satu komunitas satu inovasi digital. Seperti pendampingan pemasaran UMKM, kelas literasi AI, perpustakaan digital, dan layanan informasi pendidikan.

Keberhasilan gerakan tersebut harus diukur melalui manfaat nyata, bukan sekadar jumlah pengikut, tayangan, atau popularitas di media sosial.

Dengan demikian, transendensi menjadi kekuatan yang menghubungkan kesalehan pribadi dengan tanggung jawab sosial. Iman melahirkan integritas, ilmu menghasilkan inovasi, dan keberanian menghadirkan perubahan.

Pendidikan 5C Plus Karakter
Ketiga figur tersebut menawarkan paradigma pendidikan pemuda abad ke-21 yang mengintegrasikan iman, ilmu, dan keberanian moral.

Kompetensi critical thinking, creativity, communication, collaboration, dan computational thinking atau 5C perlu diperkuat dengan karakter tauhid, amanah, kejujuran, adab, serta tanggung jawab sosial.

Pendidikan harus membentuk worldview atau cara pandang, mindset atau pola pikir, affection atau penghayatan nilai, dan behavior atau perilaku nyata.

Pemuda tidak cukup mengetahui kebaikan, tetapi harus memahami, menyadari, menghayati, melakukan, dan menjadikannya karakter kehidupan.

Sekolah, pesantren, dan perguruan tinggi perlu mengintegrasikan kecakapan digital dengan keteladanan, pembiasaan akhlak, inovasi sosial, dan pengabdian masyarakat. Pendidikan transendensi harus menghasilkan pemuda yang mampu mengubah pengetahuan menjadi karya dan keyakinan menjadi pengabdian.

Penutup,
Mewarisi Spirit, Mengarahkan Zaman.
Ashabul Kahfi mengajarkan keteguhan iman. Pemuda pendamping Musa mengajarkan kesetiaan dan kecerdasan belajar. Ali bin Abi Thalib mengajarkan keberanian moral dan kepemimpinan.

Ketiganya menghadirkan satu pesan bahwa kemajuan peradaban membutuhkan manusia yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki arah hidup dan tanggung jawab.

Pemuda transendensi bukan sekadar pengguna teknologi, melainkan pengarah perubahan menuju kemaslahatan. Mereka harus hadir sebagai pelopor literasi digital, pencipta inovasi, penggerak pengabdian, dan penjaga etika kehidupan publik.

Jadilah seteguh Kahfi dalam iman, setekun pemuda Musa dalam ilmu, dan seberani Ali dalam memperjuangkan kebenaran.

Pemuda transendensi itu berakar pada iman, bertumbuh dengan ilmu, bergerak dengan keberanian, dan berkarya untuk peradaban.(ds)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *