Tak Mau Anak Putus Sekolah Gara-gara Uang, Yota Balad Gaspol

Kota Pariaman, KIPRAH ONLINE – Seragam sekolah mungkin cuma sepotong pakaian. Tetapi bagi sebagian keluarga, sepatu, tas, baju, celana atau rok hingga atribut sekolah bisa menjadi pengeluaran yang tak ringan.

Pemerintah Kota (Pemko) Pariaman, Sumatera Barat memilih memotong beban itu. Memasuki tahun kedua, Wali Kota Pariaman Yota Balad bersama Wakil Wali Kota Mulyadi kembali menggelontorkan seragam sekolah gratis untuk siswa SD kelas I.

Tak tanggung-tanggung, 1.300 siswa dari 72 SD negeri di Kota Pariaman menjadi sasaran program pada 2026.

Paket bantuan mencakup sepatu, tas, baju, rok atau celana, topi dan dasi. Kebijakan ini bukan sekadar soal pakaian sekolah, tetapi bagian dari strategi pemerintah agar kondisi ekonomi keluarga tidak berubah menjadi alasan seorang anak kehilangan kesempatan menempuh pendidikan.

“Insyaallah anak-anak Kota Pariaman yang masuk kelas satu SD, itu dipastikan dapat seragam sekolah gratis di setiap sekolah negeri,” tegas Yota Balad.

Ia bahkan memastikan program tersebut akan dijalankan selama lima tahun masa kepemimpinannya bersama Mulyadi.

Pesan politik kebijakannya pun terang: anak sekolah jangan sampai kalah oleh keadaan ekonomi orang tua.

Pemko Pariaman ingin memastikan anak-anak yang baru memasuki dunia pendidikan tidak memulai langkah mereka dengan tekanan biaya perlengkapan sekolah yang seharusnya bisa ditanggung pemerintah.

Penyerahan simbolis dilakukan Yota Balad di tiga sekolah, yakni SDN 07 Kampung Jawa II Kecamatan Pariaman Tengah, SDN 05 Air Santok Kecamatan Pariaman Timur dan SDN 01 Pauh Kuraitaji Kecamatan Pariaman Selatan, Jumat (11/9/2026).

Program Pemko itu kemudian diperkuat bantuan CSR Bank Nagari bagi siswa kurang mampu yang belum memperoleh seragam gratis.

Angkanya kembali menunjukkan skala program tersebut. CSR Bank Nagari menyasar 423 siswa SMP dan 425 siswa SD, dengan bantuan seragam berupa baju, rok atau celana, dasi dan topi.

Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Hertati Taher berharap bantuan tersebut tidak berhenti sebagai bantuan materi, tetapi mampu membangkitkan semangat siswa untuk belajar dan mengejar prestasi.

Bagi Fani (41), orang tua siswa SDN 01 Pauh Kuraitaji, bantuan itu menjadi kabar yang melegakan. Ia menyampaikan terima kasih kepada Yota Balad dan Mulyadi serta berharap program terus berlanjut.

Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan program ini bukan pada berapa banyak seragam yang dibagikan.

Melainkan berapa banyak anak Pariaman yang tetap berdiri di depan kelas, belajar, bermimpi dan mengejar masa depan tanpa harus menyerah hanya karena orang tuanya tak mampu membeli perlengkapan sekolah.(909)

Exit mobile version