Pesta Gol Legend di Hari Fitri: Nostalgia Gengsi dan Persaudaraan Meledak di Lapangan Josal FC Kota Pariaman

Kota Pariaman – Langit Dusun Sirambang, Cubadak Air Utara, Kota Pariaman, Sumatera Barat bergetar oleh sorak sorai yang tak biasa. Di tengah suasana Idul Fitri 1447 Hijriah, lapangan hijau berubah menjadi ruang pertemuan kenangan. Tempat para legenda kembali menapak, menghidupkan kembali gairah yang sempat tertinggal oleh waktu.

Pertandingan persahabatan itu bukan sekadar laga biasa. Ketika PS Limpur Jaya Legend Kampung Dalam berhadapan dengan PS Semen Padang Legend, yang dipertaruhkan bukan hanya skor, tetapi juga harga diri, kenangan, dan semangat yang tak pernah benar-benar padam.

Sejak peluit awal dibunyikan di Lapangan Josal FC milik Arisal Aziz, ratusan warga dari Sirambang hingga Cubadak Air Utara, Kota Pariaman, memadati sisi lapangan. Mata mereka tak berkedip, seolah tak ingin kehilangan satu detik pun dari aksi para pemain yang dulu pernah dielu-elukan yang kini telah jadi Legend.

Namun jalannya laga berkata lain. Harapan akan duel sengit perlahan runtuh, digantikan dominasi tanpa ampun. PS Semen Padang Legend tampil beringas, menggulung lawannya dengan skor telak 5-0. Sebuah hasil yang mengejutkan sekaligus memukau.

Maskur membuka keran gol, disusul Antonafi, Anton, hingga Gusripen yang menutup pesta dengan penuh gaya. Setiap bola yang bersarang di gawang disambut gemuruh penonton, menciptakan atmosfer yang lebih mirip final daripada sekadar laga silaturahmi.

Di tengah panasnya pertandingan, satu sosok mencuri perhatian. Arisal Aziz, tuan rumah sekaligus anggota DPR RI, turun langsung ke lapangan. Ia tak sekadar menjadi penonton, tetapi ikut merasakan denyut permainan. Membuktikan bahwa cintanya pada sepak bola hidup dan nyata.

Kehadiran Wakil Wali Kota Payakumbuh, Elzadaswarman, semakin menguatkan makna laga ini. Di pinggir lapangan, ia menyaksikan bagaimana. A? sepak bola menjelma menjadi bahasa universal. Menyatukan perbedaan, meruntuhkan sekat jabatan, dan merajut kembali tali silaturahmi.

Ketika peluit akhir berbunyi, skor mungkin telah menentukan pemenang. Namun yang tertinggal jauh lebih besar dari angka di papan.

Di sana ada tawa, pelukan, dan rasa persaudaraan yang menghangatkan. Ini sebuah pengingat bahwa di hari kemenangan, yang paling berarti bukanlah siapa yang unggul, melainkan siapa yang tetap bersama.(ssc)

Exit mobile version