Oleh: Prof.Dr.H.Duski Samad,M.Ag
SDTP#series101.19042026.
Padang – Agama pada hakikatnya diturunkan untuk menuntun manusia menuju kebenaran, menghadirkan ketenangan batin, serta membangun peradaban yang berkeadilan dan berakhlak. Dalam Islam, tujuan itu tidak hanya diwujudkan dalam ajaran normatif, tetapi juga dalam institusi hidup yang konkret. Dan salah satu yang paling utama adalah masjid. Di sanalah iman dipupuk, ilmu ditumbuhkan, dan masyarakat dibangun.
Namun dalam perjalanan sejarah manusia, kita dihadapkan pada sebuah kenyataan yang tidak bisa diabaikan. Anomali dalam agama dan masjid. Sebuah keadaan ketika ajaran yang suci tidak lagi sejalan dengan praktik para pemeluknya, dan ketika tempat yang semestinya menjadi pusat peradaban justru mengalami pergeseran makna.
Anomali dalam agama bukan berarti agama itu yang salah. Justru, ia adalah cermin bahwa manusia sering kali gagal memahami, menghayati, dan mengamalkan nilai-nilai ilahi secara utuh. Dalam pengertian sederhana, anomali agama adalah ketidaksesuaian antara apa yang diajarkan dengan apa yang dilakukan.
Al-Qur’an sejak awal telah mengingatkan potensi penyimpangan ini. Manusia bisa saja menegakkan shalat, tetapi tetap melakukan kemungkaran. Mereka bisa mengucapkan kebenaran, tetapi mencampurnya dengan kebatilan.
Bahkan, mereka bisa tampil religius di ruang publik, namun kehilangan integritas dalam kehidupan nyata. Di sinilah agama berisiko berubah dari jalan hidup menjadi sekadar identitas.
Fenomena ini semakin tampak jelas dalam kehidupan modern. Kita menyaksikan orang yang rajin beribadah, tetapi masih melakukan korupsi, ketidakadilan, atau kekerasan. Simbol-simbol agama berkembang pesat. Masjid megah berdiri di berbagai tempat, aktivitas keagamaan semakin semarak. Namun pada saat yang sama, kejujuran, empati, dan tanggung jawab sosial justru melemah. Simbol berkembang, tetapi substansi menyusut.
Di titik ini, masjid sebagai jantung peradaban Islam ikut mengalami ujian yang sama. Dalam sejarahnya, masjid bukan sekadar bangunan, tetapi pusat transformasi manusia. Dari masjid lahir generasi yang memadukan iman, ilmu, dan amal. Namun hari ini, kita mulai melihat gejala lain. Masjid yang ramai secara fisik, tetapi belum tentu hidup secara spiritual.
Al-Qur’an memberikan kerangka yang sangat jelas dalam Surah At-Taubah ayat 18, 107, serta 108–109. Ayat-ayat ini bukan hanya berbicara tentang masa Nabi, tetapi juga menjadi cermin tajam bagi kondisi masjid hari ini.
Pertama, dalam QS. At-Taubah pada ayat 18 ditegaskan bahwa yang memakmurkan masjid hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, mendirikan salat, menunaikan zakat, dan tidak takut selain kepada Allah. Ayat ini turun untuk membantah klaim kaum musyrikin yang merasa memiliki Ka’bah hanya karena mereka mengurusnya secara fisik.
Pesannya sangat jelas. Memakmurkan masjid bukan soal bangunan, tetapi soal iman dan integritas.
Dalam konteks modern, muncul fenomena yang dapat disebut sebagai “pelanggan masjid”. Mereka hadir, tetapi tidak terlibat. Mereka datang, tetapi tidak menghidupkan. Masjid menjadi tempat singgah, bukan ruang pembinaan. Ibadah menjadi rutinitas, bukan transformasi. Bahkan, tidak sedikit yang memperlakukan masjid seperti ruang layanan. Mengharapkan kenyamanan, tetapi tidak merasa memiliki tanggung jawab.
Padahal, dalam perspektif Al-Qur’an, masjid tidak membutuhkan konsumen agama, tetapi pembangun peradaban.
Kedua, Al-Qur’an memberi peringatan keras melalui QS. At-Taubah ayat 107 tentang “Masjid Dhirar”. Masjid yang dibangun untuk menimbulkan mudarat, perpecahan, dan kepentingan tersembunyi. Secara fisik ia masjid, tetapi secara substansi ia adalah alat manipulasi.
Sejarah mencatat bagaimana kaum munafik membangun masjid untuk kepentingan politik dan memecah umat. Bahkan mereka berusaha melibatkan Nabi untuk meresmikannya, sebelum akhirnya Allah membongkar niat mereka.
Pesan ayat ini sangat relevan hari ini. Tidak semua yang bernama masjid itu suci, jika niat dan fungsinya menyimpang.
Dalam realitas modern, “Masjid Dhirar” bisa hadir dalam bentuk fungsi, bukan bangunan. Masjid bisa berubah menjadi ruang konflik, alat legitimasi kekuasaan, atau panggung pencitraan. Mimbar yang seharusnya menyejukkan, terkadang menjadi ruang provokasi. Bahasa agama dipakai, tetapi ruh agama ditinggalkan.
Lebih jauh, anomali agama dan masjid bertemu pada satu titik yang sama. Krisis niat dan kesadaran. Amal yang tampak baik kehilangan nilainya ketika tidak dilandasi keikhlasan. Ibadah berubah menjadi panggung ego. Ilmu berubah menjadi alat debat, bukan cahaya pencerahan.
Ketiga, Al-Qur’an menawarkan jalan keluar melalui QS. At-Taubah ayat 108–109. Allah memuji masjid yang didirikan atas dasar takwa sejak awal, seperti Masjid Quba. Dan mengingatkan bahwa bangunan tanpa fondasi takwa akan runtuh, meskipun tampak kokoh.
Inilah prinsip yang sering dilupakan. Fondasi masjid bukan semen dan beton, tetapi takwa.
Maka, menghentikan anomali dalam agama dan masjid tidak cukup dengan memperbanyak simbol atau aktivitas. Yang dibutuhkan adalah mengembalikan ruh agama dalam seluruh dimensi kehidupan.
Masjid harus kembali menjadi pusat tazkiyah. Pembersihan jiwa di tengah krisis mental manusia modern. Ia harus menjadi pusat ilmu. Menghidupkan tradisi halaqah dan sanad keilmuan. Ia harus menjadi pusat sosial. Menggerakkan zakat, wakaf, dan solidaritas umat. Dan yang paling penting, ia harus menjadi ruang persatuan, bukan perpecahan.
Lebih dari itu, agama harus kembali dihidupkan sebagai kesadaran, bukan sekadar kewajiban. Ia harus hadir dalam kejujuran, dalam keadilan, dalam empati, dan dalam tanggung jawab sosial. Tanpa itu semua, agama akan tetap ada, tetapi kehilangan daya transformasinya.
Akhirnya, kita sampai pada sebuah kesadaran yang mendalam. Agama tidak pernah gagal membimbing manusia, tetapi manusia sering gagal menjadikan agama sebagai jalan hidupnya.
Dan masjid, sebagai jantung peradaban, akan selalu menjadi cermin dari kondisi itu. Jika ia diisi oleh “pelanggan”, ia akan sepi makna. Jika ia dipakai untuk kepentingan, ia akan kehilangan marwah. Tetapi jika ia dihidupkan oleh orang-orang yang bertakwa, maka dari sanalah peradaban akan kembali bangkit. Dengan ruh yang utuh, nilai yang hidup, dan arah yang jelas menuju ridha Allah.(ds).
