Abraham Accord Trump, Diplomasi Perdamaian atau Strategi Hegemoni?

Oleh: Duski Samad
Wakil Ketua Umum PP PERTI

Padang – Salah satu kebijakan luar negeri paling kontroversial pada masa pemerintahan Donald Trump adalah lahirnya Abraham Accord pada tahun 2020. Kesepakatan ini dipromosikan sebagai langkah bersejarah menuju perdamaian Timur Tengah melalui normalisasi hubungan diplomatik antara Israel dan sejumlah negara Arab.

Nama “Abraham” dipilih karena merujuk kepada Nabi Ibrahim AS, tokoh yang dihormati oleh Yahudi, Kristen, dan Islam. Melalui simbol Abraham, dunia diajak melihat adanya akar sejarah yang sama di antara ketiga agama tersebut. Sehingga diharapkan dapat membuka jalan bagi perdamaian dan kerja sama.

Pada tataran diplomasi internasional, gagasan tersebut tampak menarik. Perdamaian memang merupakan kebutuhan seluruh umat manusia. Konflik berkepanjangan di Timur Tengah telah menimbulkan penderitaan kemanusiaan yang luar biasa dan menghambat pembangunan kawasan selama puluhan tahun.

Namun pertanyaannya, apakah Abraham Accord semata-mata proyek perdamaian, atau terdapat kepentingan geopolitik yang lebih besar di baliknya?

Politik Abrahamik dan Kepentingan Geostrategis.
Dalam perspektif hubungan internasional, Abraham Accord tidak dapat dilepaskan dari kepentingan strategis Amerika Serikat dan Israel.

Kesepakatan ini membuka ruang normalisasi hubungan antara Israel dan beberapa negara Arab. Memperluas pengakuan diplomatik terhadap Israel, memperkuat kerja sama keamanan kawasan. Sekaligus memperkokoh posisi Amerika Serikat sebagai aktor utama di Timur Tengah.

Abraham Accord bukan hanya proyek diplomasi perdamaian. Tetapi juga proyek politik, ekonomi, keamanan, dan pengaruh global.

Banyak pengamat melihat bahwa penggunaan simbol Abraham sesungguhnya merupakan strategi politik yang cerdas. Nama Abraham dipilih, karena memiliki daya tarik emosional dan religius bagi miliaran manusia di dunia.

Artinya, dengan menggunakan simbol agama, agenda politik menjadi lebih mudah diterima oleh masyarakat luas.

Bahaya Ketika Politik Menunggangi Agama.
Di sinilah umat beragama perlu bersikap cermat.
Sejarah dunia menunjukkan bahwa agama sering menjadi sumber moralitas, perdamaian, dan peradaban. Namun, sejarah juga membuktikan bahwa agama tidak jarang dijadikan kendaraan untuk mencapai tujuan politik tertentu.

Ketika politik menunggangi agama, masyarakat sering kehilangan kemampuan membedakan antara ajaran wahyu yang suci dan strategi kekuasaan yang bersifat duniawi.

Baca Juga:  LGBT, Psikologi Modern dan Terapi Spritual: Jaga Fitrah Martabat Manusia, Ketahanan Keluarga dan Masa Depan Bangsa

Simbol-simbol agama digunakan untuk memperoleh legitimasi, membangun dukungan publik, memperluas pengaruh politik, bahkan mengukuhkan dominasi geopolitik. Bahasa persaudaraan digunakan. Tetapi yang bergerak di belakangnya bisa saja kepentingan ekonomi, keamanan, dan perebutan pengaruh global.

Strategi politik yang menunggangi agama seperti ini sangat berbahaya. Sebab, mampu mempengaruhi kesadaran masyarakat tanpa disadari. Agama yang seharusnya menjadi kompas moral, akan dapat berubah menjadi alat legitimasi kekuasaan.

Oleh arena itu, umat Islam tidak boleh hanya melihat kemasan sebuah kebijakan, tetapi juga harus membaca substansi dan tujuan yang melatarbelakanginya.

Tidak setiap slogan perdamaian bebas dari kepentingan politik. Tidak setiap narasi persaudaraan terbebas dari agenda dominasi. Dan, tidak setiap penggunaan simbol agama lahir semata-mata demi kepentingan agama.

Al-Qur’an mengajarkan prinsip tabayyun, kehati-hatian, dan kecerdasan membaca realitas.

Umat Islam harus mampu membedakan antara. Dialog dan pencampuradu kan akidah, kerja sama dan penyerahan prinsip, diplomasi dan dominasi, perdamaian dan hegemoni.

Perspektif Islam: Ibrahim Adalah Simbol Tauhid.
Bagi umat Islam, Nabi Ibrahim AS bukan sekadar tokoh sejarah. Beliau adalah simbol tauhid, keberanian, dan keteguhan iman.

Allah SWT berfirman:”Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan pula seorang Nasrani, tetapi ia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri kepada Allah.” (QS. Ali Imran: 67)

Ayat ini, menegaskan bahwa Nabi Ibrahim AS adalah teladan kemurnian tauhid. Beliau menghancurkan berhala, melawan kemusyrikan, dan menolak tunduk kepada kekuasaan yang menyesatkan manusia dari jalan Allah.

Sebab, dalam perspektif Islam, konsep Abrahamik tidak boleh dipahami sebagai upaya menyamakan seluruh agama dalam aspek akidah. Islam menghormati para nabi terdahulu, menghormati pemeluk agama lain, dan mendorong dialog kemanusiaan. Namun Islam tetap memiliki prinsip tauhid yang tegas dan tidak dapat dinegosiasikan.

Nabi Ibrahim yang dikenal umat Islam bukanlah simbol kompromi akidah, melainkan simbol keteguhan mempertahankan kebenaran meskipun menghadapi tekanan politik dan kekuasaan.

Baca Juga:  BMKG, Gempa di Blitar Berkekuatan 2,7 Magnitudo, Berpusat 108 Km Tenggara Wilayah Kabupaten

Jangan Sampai Tauhid Tergadaikan.
Perdamaian adalah tujuan mulia. Kerja sama antarbangsa juga merupakan kebutuhan dunia modern. Akan tetapi umat Islam tidak boleh kehilangan kewaspadaan terhadap berbagai strategi politik global yang menggunakan simbol-simbol agama untuk mencapai tujuan tertentu.

Serigala yang berburu domba tidak selalu datang dengan wajah menakutkan. Kadang, ia datang dengan bahasa kemanusiaan, toleransi, persaudaraan, dan perdamaian.

Jadi, umat Islam harus tetap terbuka dalam dialog, tetapi kokoh dalam akidah. Bersedia bekerja sama, tetapi tidak menyerahkan prinsip. Siap membangun perdamaian, tetapi tidak menggadaikan tauhid.

Pelajaran terbesar dari Nabi Ibrahim AS bukan sekadar tentang persaudaraan lintas keturunan. Melainkan tentang keberanian mempertahankan kebenaran, kemurnian tauhid, dan kemerdekaan spiritual dari segala bentuk penyembahan selain Allah.

Penutup.
Abraham Accord ala Trump menunjukkan bagaimana agama, diplomasi, dan geopolitik dapat bertemu dalam satu panggung besar dunia.

Perdamaian tentu harus didukung. Konflik dan peperangan harus diakhiri. Namun umat Islam juga perlu memahami bahwa dalam politik internasional, simbol agama sering digunakan sebagai instrumen untuk membangun pengaruh dan legitimasi.

Oleh sebab itu, kecerdasan politik dan keteguhan akidah harus berjalan beriringan.

Perdamaian tanpa keadilan akan melahirkan ketimpangan. Persaudaraan tanpa kejujuran akan melahirkan kepura-puraan. Dan politik yang menunggangi agama berpotensi melahirkan manipulasi kesadaran yang jauh lebih berbahaya daripada konflik yang tampak di permukaan.

Bagi umat Islam, Nabi Ibrahim AS tetap menjadi simbol tauhid, keberanian, dan istiqamah. Maka dalam menghadapi berbagai narasi global, prinsip yang harus dipegang adalah:

Berdialog tanpa kehilangan identitas. Bekerja sama tanpa menyerahkan prinsip. Berdamai tanpa menggadaikan tauhid.(DS.29052026)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *