Final Takraw Panaskan Generasi Muda, Empat Klub Terbaik Sumbar Bertarung Rebut Piala LIMKOS Se-Dunia

Padang Pariaman – Lapangan Sepak Takraw Balai Basuang, Nagari Sikucua, V Koto, Padang Pariaman, Sumatera Barat dipastikan bergemuruh, Sabtu (7/2/2026).

Empat klub terbaik Sumatera Barat akan saling jegal dalam Grand Final Open Turnamen Sepak Takraw memperebutkan Piala Bergilir LIMKOS Se-Dunia.

Bukan sekadar adu teknik dan ketangkasan, laga puncak ini menjadi panggung harga diri daerah dan kebanggaan anak nagari. GESIT dari Padang Pariaman, STC Pasaman Barat, LIMKOS sebagai tuan rumah, dan SAMUDRA dari Kota Pariaman tampil sebagai empat kekuatan terakhir.

Format setengah kompetisi dengan sistem poin membuat setiap kesalahan berpotensi memupus harapan juara. Atmosfer pertandingan diprediksi berlangsung panas karena setiap klub membawa ambisi besar untuk menorehkan sejarah.

Turnamen bergengsi ini sebelumnya dibuka langsung oleh Bupati Padang Pariaman John Kenedy Azis pada 22 Januari 2026. Selama 15 hari kompetisi berlangsung, puluhan pertandingan sengit tersaji dengan melibatkan 32 tim dari berbagai daerah di Sumatera Barat.

Baca Juga:  Dari Trial ke Timnas? Perjalanan Awal Tony Kouwen Menuju Panggung Besar

Pada partai final, panitia bahkan menyiapkan tiga wasit dalam satu hari untuk memastikan jalannya pertandingan tetap adil dan menjunjung tinggi sportivitas.

Selain gengsi, perebutan gelar juara juga diiringi hadiah pembinaan yang memacu semangat para atlet. Juara pertama berhak membawa pulang Rp2,5 juta, juara kedua Rp2 juta, juara ketiga Rp1,5 juta, dan juara keempat Rp1 juta.

Namun bagi para pemain, kemenangan di arena takraw kerap menjadi kebanggaan yang nilainya jauh melampaui angka rupiah.

Ketua Limo Koto Sekitar (LIMKOS) Jakarta, Ismet Jaya Piliang, menegaskan turnamen ini lahir dari kerinduan perantau terhadap kampung halaman.

Ia menyebut olahraga menjadi jembatan emosional yang menyatukan ranah dan rantau, sekaligus memperkuat solidaritas masyarakat Keselarasan V Koto Kampung Dalam yang membawahi 12 nagari di Kecamatan V Koto dan V Koto Timur.

Menurut Ismet, turnamen ini tidak hanya soal perebutan piala, tetapi juga investasi sosial bagi generasi muda.

Baca Juga:  Target Mendali Diuji! Tujuh Atlet Hapkido Padang Pariaman Ikuti Kejurda Sumbar

Ia menilai olahraga mampu menjadi benteng moral yang menjauhkan anak nagari dari ancaman kenakalan remaja dan penyalahgunaan narkoba, sekaligus menumbuhkan disiplin serta semangat kebersamaan.

“Kita memastikan kegiatan serupa akan digelar bergilir di seluruh nagari setiap tahun sebagai upaya menjaga denyut olahraga tradisional tetap hidup,” ucap Ismet.

Harapannya, sepak takraw tidak sekadar menjadi tontonan, tetapi menjadi gerakan sosial yang membangkitkan kebanggaan daerah, mempererat persaudaraan, dan melahirkan generasi muda yang tangguh serta berkarakter.(ssc).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *