Ernidawati Dilantik Serentak Nasional Jabat Kasubbag TU Kantor Kemenhaj Padang Pariaman

Padang Pariaman – Pagi itu, Rabu (25/2/2026), tak ada gemuruh tepuk tangan di aula besar. Hanya layar-layar Zoom yang menyala serempak dari Sabang sampai Merauke. Namun di balik sunyi digital itu, sebuah keputusan penting diambil.

Wakil Menteri Kementerian Haji dan Umrah, Dahnil Anzar Simanjuntak, melantik pejabat struktural secara kolektif. Sebuah langkah konsolidasi yang disebut sebagai penguatan besar-besaran di tubuh kementerian yang mengurusi ibadah paling sakral umat Islam.

Di antara ratusan nama yang dibacakan, Ernidawati SS berdiri tegap di hadapan layar, mengikuti sumpah jabatan dengan khidmat. Di Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, ia kini resmi menjabat Kepala Subbagian Tata Usaha (TU) Kantor Kementerian Haji dan Umrah dengan pangkat Pembina (IV/a).

Jabatan yang kerap dianggap administratif itu, sejatinya adalah jantung pengendali tata kelola. Tempat disiplin, ketelitian, dan integritas diuji setiap hari.

Pelantikan nasional ini mencakup Pimpinan Tinggi Pratama, Administrator, hingga Pejabat Pengawas di seluruh Indonesia. Bukan sekadar rotasi, tetapi pesan tegas bahwa tata kelola pelayanan haji dan umrah harus dibenahi dari dalam.

Di tengah sorotan publik terhadap transparansi dan profesionalisme, momentum ini seperti pernyataan sikap. Perubahan tak bisa ditunda.

Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah (Kankemenhaj) Kabupaten Padang Pariaman, Adri Ahmad, menyaksikan langsung prosesi tersebut bersama jajaran pegawai.

Baginya, lengkapnya struktur jabatan adalah titik balik. Sebelumnya, Jusnetti M. Nur, S.Ag telah lebih dulu dilantik sebagai Kepala Seksi (Kasi) Pelayanan. Kini, struktur itu utuh dan ekspektasi publik pun meninggi.

“Kami percaya amanah ini akan dijalankan dengan tanggung jawab dan integritas. Kehadiran Ernidawati diharapkan memperkuat tata kelola administrasi dan mendorong pelayanan yang lebih profesional,” ujar Adri Ahmad yang dihubungi media ini, usai prosesi pelantikan, dengan nada optimis namun sarat tantangan.

Di balik kalimat resmi itu, tersimpan harapan besar masyarakat. Setiap lembar dokumen, setiap tanda tangan, setiap keputusan administratif akan berdampak pada perjalanan spiritual ribuan calon jamaah.

Kesalahan kecil bisa berujung panjang. Ketelitian menjadi harga mati.

Pelantikan serentak ini mungkin berlangsung lewat layar, tanpa karpet merah atau sorotan kamera besar.

Namun di Padang Pariaman, sumpah yang terucap pagi itu telah menyalakan harapan. Bahwa pelayanan haji dan umrah bukan hanya urusan birokrasi, melainkan amanah umat yang harus dijaga dengan sepenuh hati.(ssc).

Exit mobile version