Konflik AS-Iran Memanas, Rupiah Terancam Tertekan di Perdagangan Berikutnya

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah pada akhir perdagangan hari ini.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah pada akhir perdagangan hari ini.

Jakarta – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Kamis (10/9/2026). Mata uang nasional ditutup turun 36 poin atau sekitar 0,21 persen ke posisi Rp17.547 per dolar AS.

Analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai pergerakan rupiah masih dipengaruhi oleh sejumlah faktor global. Salah satu perhatian utama pasar adalah meningkatnya kembali ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Konflik kedua negara tersebut kembali memanas setelah sebelumnya sempat mengalami periode mereda pada Agustus. Eskalasi terbaru ditandai dengan serangkaian serangan terhadap kapal di kawasan sekitar Selat Hormuz.

Dalam risetnya pada Kamis, Ibrahim menyebut Iran mengklaim telah melakukan serangan terhadap 10 kapal di dalam maupun sekitar Selat Hormuz pada Rabu. Sementara itu, AS menyatakan telah melakukan tindakan balasan dengan menenggelamkan lima kapal tanker minyak milik Iran.

Situasi semakin kompleks setelah kelompok Houthi yang mendapat dukungan Iran melancarkan serangan terhadap sejumlah fasilitas energi Arab Saudi pada pekan ini. Perkembangan tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi terganggunya distribusi energi dari kawasan Teluk.

Jika gangguan tidak hanya terjadi di sekitar Selat Hormuz tetapi meluas ke wilayah lain di kawasan tersebut, pasokan minyak dunia berpotensi ikut terdampak. Kondisi itu dapat menjaga harga minyak tetap tinggi dan meningkatkan tekanan terhadap perekonomian global.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menyampaikan bahwa perang dengan Iran diperkirakan berakhir setelah pelaksanaan pemilu sela pada November. Namun, laporan The Wall Street Journal menyebut sejumlah penasihat senior Trump justru melihat kemungkinan konflik berlangsung lebih lama, bahkan hingga sisa masa kepresidenannya.

Baca Juga:  Sony Ikuti Tren Pasar, PlayStation 5 Jadi Lebih Mahal di AS dan Jepang

Ketidakpastian mengenai arah konflik membuat pelaku pasar juga mencermati data ekonomi Amerika Serikat. Investor menunggu publikasi data Producer Price Index (PPI) AS pada Kamis serta Consumer Price Index (CPI) yang dijadwalkan dirilis Jumat.

Kedua indikator tersebut akan menjadi bahan pertimbangan penting bagi pasar dalam memperkirakan kebijakan moneter bank sentral AS atau The Federal Reserve. Data inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan dapat memengaruhi keputusan The Fed terkait suku bunga pada pertemuan kebijakan pekan depan.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar saat ini memperkirakan probabilitas sekitar 60 persen terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga pada pertemuan tersebut.

Risiko Fiskal dari Lonjakan Harga Minyak

Dari dalam negeri, sentimen terhadap rupiah juga masih dibayangi persoalan fiskal. Pemerintah memang memberikan sinyal bahwa kondisi anggaran negara masih terkendali. Namun, kenaikan harga minyak mentah dunia dapat memberikan tekanan tambahan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Harga minyak yang tinggi berpotensi meningkatkan kebutuhan anggaran untuk subsidi dan kompensasi energi, termasuk untuk bahan bakar minyak (BBM) dan LPG.

Tekanan terhadap APBN akan semakin besar apabila peningkatan penerimaan negara tidak mampu mengimbangi kenaikan belanja subsidi. Dalam kondisi tersebut, peluang defisit anggaran melampaui target dapat meningkat.

Kenaikan harga minyak juga berpotensi berdampak terhadap nilai tukar. Ketika biaya impor energi meningkat, kebutuhan terhadap dolar AS ikut bertambah. Permintaan dolar yang lebih besar pada akhirnya dapat memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah.

Pemerintah juga menghadapi pilihan sulit apabila harga energi global bertahan tinggi. Penyesuaian harga BBM di dalam negeri memang dapat membantu mengurangi beban anggaran, tetapi di sisi lain berisiko mendorong inflasi dan mengurangi kemampuan belanja masyarakat.

Baca Juga:  Kebakaran Dini Hari di Gang PGRI Labuhanbatu, Kerugian Ditaksir Ratusan Juta Rupiah

Selama ini, pemerintah memiliki sejumlah ruang fiskal untuk meredam tekanan tersebut, termasuk mengandalkan peningkatan penerimaan dari ekspor komoditas serta potensi keuntungan tak terduga (windfall). Meski demikian, ketidakpastian ekonomi global membuat keberlanjutan kondisi fiskal tetap perlu mendapat perhatian.

Konsumsi Masyarakat Jadi Penahan Tekanan

Di tengah berbagai sentimen negatif tersebut, terdapat faktor yang sedikit memberikan dukungan terhadap rupiah. Tingkat kepercayaan konsumen pada Agustus tercatat mencapai posisi tertinggi dalam tiga bulan terakhir.

Penguatan sentimen tersebut terutama ditopang oleh kondisi keuangan rumah tangga yang dinilai lebih baik serta meningkatnya optimisme terhadap prospek perekonomian.

Namun, peningkatan konsumsi masyarakat belum sepenuhnya mencerminkan pertumbuhan pendapatan. Sebagian rumah tangga masih mempertahankan pola konsumsi dengan menggunakan simpanan yang telah dimiliki atau yang kerap disebut sebagai fenomena “makan tabungan”.

Dengan mempertimbangkan berbagai faktor tersebut, Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah pada perdagangan berikutnya masih akan berlangsung volatil. Rupiah diproyeksikan berada dalam kisaran Rp17.540 hingga Rp17.590 per dolar AS, dengan kecenderungan berakhir di zona pelemahan.(BY)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *